ZARA DAN SUAMI

Laki-laki yang dengan berani melakukan ijab kabul untuk menghalalkan diriku untuknya adalah Rumaedi. Usianya terpaut lima tahun dengaku. Laki-laki yang senang berpetualang di alam ini kelahiran 12 Agustus.

Mungkin bagi orang lain ia biasa. Ia lah....tak banyak yang tahu dirinya, toh dia bukan artis, politikus atau public pigur lainnya, ia hanya seorang laki-laki yang dikenal di lingkungannya saja (lingkungan yang tidak besar tentunya, beda dengan lingkungannya Habiburrahman El-Shirazy --penulis favoritku, ataupun lingkungannya Mario Teguh --motivator yang mencuri perhatianku). Tapi bagaimanapun keadaan dia, aku mencintainya dengan sepenuh hatiku, apa adanya dia. Dan aku pikir dia lah yang tepat untukku, ia melengkapi kehidupanku.

Kamis, 08 Juli 2010 adalah hari yang sangat bersejarah bagi kami. Yah....pada saat itu, dia menikahiku. Mesjid At-taqwa Kampung Pasirgadung RT.01/RW01 Desa Pasirgadung adalah tempat akad nikah kami dilangsungkan.

Lalu Sabtu, 31 Juli 2010 bertempat di Mesjid Al-Istiqomah Pasar Minggu kami membagi kebahagiaan dengan teman-teman. Yah...resepsi baru kami laksanakan pada minggu ke-3 setelah pernikahan.

Angka 1282425 menjadi pilihan kami untuk dijadikan mahar. 12 menunjukkan hari lahirnya, yang apabila dipecah menjadi 10+2=12 yang menunjukkan bulan kelahiranku (10) dan tanggal lahirku (2). Angka 8 menunjukkan bulan lahirnya. 24 menunjukkan tanggal yang mengingatkan saat kami berkomitmen bersama untuk mempersiapkan diri menerima pasangan masing-masing menuju pernikahan. 25=20+5, yang artinya kami menikah di usia kepala 2 dengan perbedaan usia terpaut 5 tahun.

Kami menikmati pernikahan ini. Terlebih pada dasarnya kami sama-sama suka hunting tempat-tempat seru. Dia suka gunung dan hutan. Aku suka pantai dan wangi pohon-pohon. Maka jangan heran jika kami mengisi liburan dengan jalan-jalan. Mengenai budget...., kami bisa menyesuaikan dengan keadaan kantong.

Sampai sejauh ini...tempat favorit kami ada dua. Pertama, kami menyukai Air Terjun Cibereum yang ada di kawasan Cibodas, Jawa Barat. Kedua di kawasan Anyer, tepatnya Batu Hideung. Kalo ke Cibereum biasanya menginap (kadang sewa penginapan, tapi kadang pula tidur di warung Mang Idi). Yang jelas Cibereum itu meninggalkan sesuatu yang sangat berkesan di hati, hingga tak bosan walau harus kembali ke tempat yang sama. Sementara di Batu Hideung-Anyer...ada ketenangan yang membuat kami nyaman.

Motor Yamaha Jupiter Z nya yang nomor polisinya berakhiran SFY menjadi teman setia. Suamiku mengajarkan aku untuk berpetualang dengan motor. Memang sejak dahulu suamiku itu senang mealkukan perjalanan dengan motor. Dulu saja ia ikut klub motor JJC, tapi sekarang dah jarang ikut nongkrong lagi oleh sebab pekerjaannya itu. Kilometer dimotornya sudah kembali ke nol, kalo dihitung-hitung dan dijumlahkan dari awal, sudah mencapai 126.000 km lebih.

Ada hal lain lagi yang saling melengkapi diantara kami. Dia senang akan fotografi sementara aku senang dijadikan obyek foto. Jadi kameranya (walaupun manual) tak akan ditinggal di rumah jika kami sedang hunting tempat seru, kecuali memang ada hal tertentu yang menyebabkannya tidak bisa di bawa.

Dibalik sikap cueknya, ada kepedulian yang tinggi. Mungkin ini kali ya...bawaannya anak MAPALA? Banyak hal yang membuat aku terkesan karena kepeduliannya.

Tapi yang jelas selain motornya itu ada hal lain yang sering ia perhatikan. Slayer SWAPALA (SWADHARMA PECINTA ALAM)...., tak boleh hilang dan harus segera dicuci bila kotor. Dia memang anak MAPALA saat kuliah di SWADHARMA, dan sepertinya dia sangat bangga pada SWAPALA-nya itu. Sampai sekarang masih suka kumpul sama teman-temannya, yang akrab memanggilnya MAE dan KUSAM (nama rimba saat pendidikan dasar di CIKULUH (Cikupret Luhur).

Bahkan dari sekarang dia sudah bercita-cita kan mengenalkan alam pada keturunannya. Aku tidak menentang sieh..., hanya saja telah aku tegaskan bahwa saat keturunan kami ada...., dia boleh mengenalkan alam pada keturunan kami dengan catatan tidak menganggu pendidikan mereka. Aku ingin keturunanku dengannya menjadi pribadi yang mengenal Rabb-nya, agamanya, pengetahuan dengan tetap mencintai alam. Amien...!

Memang kami ada banyak perbedaan pemikiran. Tapi itu bukan suatu kendala...., semoga ini menjadi keragaman kami dalam mengolah ramuan untuk menuju keluarga sakinah mawaddah warohmah. Mencintai itu toh bukan harus sama. Bagaimanapun dia tetap My Lovely Kusam.