Sore ini, aku lumayan bingung. Sementara digenggamanku sudah ada alat tes kehamilan. Aku bingung apakah akan melakukan tes itu sore ini juga, atau ditunda esok pagi (karena seorang teman pernah berkata bahwa tes kehamilan lebih bagus jika dilakukan pada pagi hari). Tapi sungguh aku sudah tak sabar untuk melakukannya, ingin segera mengetahui status rahimku.
Selain bingung memilih waktu yang tepat untuk tes, akupun disergap rasa harap-harap cemas. Ada rasa takut yang menyelubungi hatiku. Aku takut jikatak mampu memberikan kabar terbaik untuk suamiku. Bagaimanapun aku mulai menangkap sikap suamiku yang sudah merindukan keturunan.
Kuperhatikan suamiku yang tengah sibuk mencuci motor. Ia mempertanyakan sikapku yang belum juga melakukan tes tersebut. Jujur kuakui padanya bahwa diriku tengah dihantui rasa cemas, cemas jika hasilnya mengecewakan. Aku brsyukur...kini ditengah rasa harap-harap cemasku, suamiku mampu meyakinkanku bahwa ia dapat menerima apapun hasil tesnya nanti.
Ahirnya kuputuskan untuk melakukan tes sore ini juga. Aku tidak siap jika dilanda rasa penasaran hingga esok pagi. Positif atau negatif bisa kuketahui secepatnya jika kulakukan tes sore ini.
Beberapa menit lamanya aku berjibaku dengan alat tes kehamilan tersebut. Mataku dengan seksama memperhatikan garis merah yang muncul. Dan Alhamdulillahirabbil'alamin....akhirnya dua garis merah muncul juga. Hampir saja aku teriak dan meloncat di kamar mandi.
Kudatangi suamiku yang tengah sibuk mengisi ember dengan air guna keperluan mencuci motor. Wajah dingin kutunjukkan agar ia penasaran dengan hasilnya. Sementara hasil tes masih ku pegang erat dibalik badanku.
"Gimana hasilnya?" ia tersenyum.
"Lihat aja ya!" kutunjukkan hasilnya.
Ada segurat binar dimatanya, "bener nieh?" tanyanya.
Aku hanya mengangguk.
"Alhamdulillahirabbil'Alamin...!" ucapnya.
Suamiku yang memang cuek itu kembali melanjutkan aktivitas mencuci motornya. Keningku agak mengkerut melihat sikapnya. Kuabaikan saja dia, kemudian kusibukkan diriku dengan memotret hasil tes tersebut dengan kamera ponselku.
Usai mencuci motor, suamiku menghampiri. Ia memeluk tubuhku. Mengecup keningku dan mengelus perutku.
"Makasih ya, Mi...! Jaga dedenya baik-baik!"
Kemudian ia tampak sibuk mengiris sms ke adik-adiknya untuk mengabarkan kehamilan ini pada orang tua dan keluarga.
"Menjadi pecundang bukanlah takdir hidup manusia, melainkan pilihan oleh sebab tiada tindakan untuk melakukan perubahan" "PERBAIKAN DIRI UNTUK PERBAIKAN UMAT"
Minggu, 21 November 2010
Minggu, 17 Oktober 2010
YANG TERTUNDA
Masih dengan sembarang rasa aku menikmati kehadirannya. Mungkin nyaman itu memang ada saat berjumpa dengan wajahnya. Atau bisa jadi sebuah kepura-puraan telah menjadi topeng yang menemaniku melakoni hubungan percintaan ini.
Aku tak faham benar dengan perasaanku pada lelaki yang kusebut kekasih itu. Kadang perjumpaan dengannya menciptakan rangkaian bunga yang bermekaran dalam taman hatiku. Tapi tak jarang aku merasakan mual saat mendengarkan ucapannya yang kian hari kian terasa menjijikan.
Dengan tatapan kosong kusambut kehadirannya di senja yang mulai merangkak mejemput malam. Setangkai mawar merah telah ia persiapkan untuk menyegarkan kuncup rasa yang tersimpan di ruang hatiku. Sedikitnya senyumku terkembang, ada rasa indah yang menari-nari mengelilingiku. Tapi rupanya mekarnya mawar merah itu tak berlangsung lama. Ucapannya kian membuatku malas untuk berjumpa. Bau bangkai keluar dari mulutnya dengan aroma yang sangat menyengat.
”Maafkan mas...., dindaku sayang!” dia menatapku tanpa melepaskan genggaman tangannya, ”Mas sayang kamu, dinda! Tapi tolong mengertilah....Mas belum bisa menikah denganmu!”
”Alasannya?” sisi jiwaku sudah tak mampu lagi menghadirkan kesabaran, mataku menatapnya tajam.
Laki-laki yang kusebut kekasih itu mempresentasikan argumentnya tentang ketidaksiapannya memperistri diriku. Berkali-kali ia meyakinkan hatiku bahwa ia masih ingin menjalani hubungan ini dengan catatan tidak dalam bingkai rumah tangga. Setumpuk janji ia lontarkan untuk menjadikanku ibu dari anak-anaknya di beberapa tahun mendatang. Gambaran pesta pernikahan ala kerajaan pun ia deskripsikan dengan spesifik saat membujukku untuk memperlambat waktu pernikahan kami. Aku hanya bisa mendesah. Sementara ruang telingaku terasa memanas hingga diriku tak lagi mampu mendengar suara-suara.
Aku tak faham benar dengan perasaanku pada lelaki yang kusebut kekasih itu. Kadang perjumpaan dengannya menciptakan rangkaian bunga yang bermekaran dalam taman hatiku. Tapi tak jarang aku merasakan mual saat mendengarkan ucapannya yang kian hari kian terasa menjijikan.
Dengan tatapan kosong kusambut kehadirannya di senja yang mulai merangkak mejemput malam. Setangkai mawar merah telah ia persiapkan untuk menyegarkan kuncup rasa yang tersimpan di ruang hatiku. Sedikitnya senyumku terkembang, ada rasa indah yang menari-nari mengelilingiku. Tapi rupanya mekarnya mawar merah itu tak berlangsung lama. Ucapannya kian membuatku malas untuk berjumpa. Bau bangkai keluar dari mulutnya dengan aroma yang sangat menyengat.
”Maafkan mas...., dindaku sayang!” dia menatapku tanpa melepaskan genggaman tangannya, ”Mas sayang kamu, dinda! Tapi tolong mengertilah....Mas belum bisa menikah denganmu!”
”Alasannya?” sisi jiwaku sudah tak mampu lagi menghadirkan kesabaran, mataku menatapnya tajam.
Laki-laki yang kusebut kekasih itu mempresentasikan argumentnya tentang ketidaksiapannya memperistri diriku. Berkali-kali ia meyakinkan hatiku bahwa ia masih ingin menjalani hubungan ini dengan catatan tidak dalam bingkai rumah tangga. Setumpuk janji ia lontarkan untuk menjadikanku ibu dari anak-anaknya di beberapa tahun mendatang. Gambaran pesta pernikahan ala kerajaan pun ia deskripsikan dengan spesifik saat membujukku untuk memperlambat waktu pernikahan kami. Aku hanya bisa mendesah. Sementara ruang telingaku terasa memanas hingga diriku tak lagi mampu mendengar suara-suara.
Kamis, 14 Oktober 2010
PEMILUKADA TERULANG, JALAN MASIH BERLUBANG DAN BERKUBANG LUMPUR
Dua puluh tiga tahun yang lalu aku dilahirkan di sebuah peloksok desa di wilayah Pandeglang. Desa Pasirgadung Kecamatan Patia Kabupaten Pandeglang menjadi tanah kelahiranku. Bahkan tidak hanya itu, aku melewati masa kanak-kanak, remaja dan beranjak dewasa di sana.
Sungguh...dalam hatiku yang terdalam ada rasa cinta yang besar untuk kampung halamanku itu. Meski kini di usia 23 tahun aku harus merelakan diri untuk tidak lagi menjadi penghuninya (bahkan tak tagi tercatat sebagai warganya), rindu dan cintaku masih terbingkai indah untuk kampungku. Bahkan kota Metropolitan Jakarta belum bisa mengikis cintaku pada desa di selatan Pandeglang tersebut.
Namun sungguh rasa miris menghampiri hatiku. Luka yang berasal dari kecewa ini masih membekas. Aku merasakan prihatin yang menggila pada kampungku. Bayangkan...sampai detik ini keadaan jalan di desaku itu masih dalam keadaan sangat rusak. Bahkan saat musim penghujan tiba kendaraan berupa mobil tak bisa mengakses kampung halamanku. Motor pun harus mengeluarkan tenaga ekstra untuk bisa difungsikan.
Berulang kali berharap agar jalan mengalami perbaikan. Setiap tahun dihibur bahwa tahun mendatang akan ada pengaspalan. Setiap Pemilu dijanjikan akan ada bantuan dana untuk jalan. Setiap saat penduduk kampung desaku diliputi impian untuk memiliki akses jalan yang lebih baik.
Tapi begitulah, mimpi rakyat kecil hanya sebatas mimpi. Realisasi seakan tak dikenal dan tak mau menyapa. Harapan perbaikan jalan pupus seiring dengan enggannya pemimpin untuk mampir dan membuka mata atas keadaan jalan. Bahkan kata-kata pengobat hati yang mengabarkan bahwa tahun depan akan ada pengaspalan selalu diucapkan pada setiap tahun tanpa pelaksanaan. Janji-janji pemilu menguap dengan terlenanya si penjanji di atas empuknya kursi jabatan.
Kemarin,Minggu (3/10) untuk kesekian kalinya PEMILU dilaksanakan. Kali ini PEMILUKADA yang bertujuan untuk memilih Pemimpin Pandeglang pun digelar. Warga Pandeglang pun rela meluangkan waktu untuk memilih Pemimpin yang baru, termasuk warga di kampungku.
Aku yakin mereka rela meluangkan waktu demi harapan baru. Perbaikan Pandeglang menjadi tujuan. Bahkan bagi warga di kampungku jelas-jelas harapan itu terlontar, "Gampang lah yang muluk-muluk mah, yang penting jalan enak".
Jika warga kampungku saja rela meluangkan waktu agar punya pemimpin baru yang katanya mau memperbaiki Pandeglang, apakah pemimpin Pandeglang yang baru nanti mau meluangkan waktu untuk memikirkan jalan di kampungku lalu menyediakan anggaran untuk memperbaikinya???
Jika tidak, harus diulang berapa kali PEMILUKADA-nya agar JALAN TIDAK BERLUBANG dan BERKUBANG LUMPUR???
VESPA OH VESPA
Tiba-tiba saja aku teringat kendaraan roda dua bernama Vespa. Gara-garanya sieh aku mencoba mengenang parjalanan ke Puncak di 26 September 2010 lalu. Yah...saat di perjalanan mataku menagkap beberapa Vespa yang di modif. Glekk...., tentu saja membuat mataku melotot memandanginya --sebagai bentuk kekaguman.
Memang sejak menikah dengan My'Lovely Rumaedi Kusam aku mulai ikut-ikutan membaca tabloid motor. Maksudnya sieh agar bisa nemu tema pembicaraan yang oke with My'Lovely Rumaedi Kusam. Tapi tetep gak bisa dipaksakan, daku cuma tertarik pada lembar yang membahas kegiatan balapan yang diikuti "The Doctor" dan kawan-kawan. Selebihnya mataku hanya menikmati lembar-lembar gambar yang memuat modifikasi motor (Sampai-sampai suka mikir pengen punya motor yang dimodif).
My'Lovely Rumaedi Kusam tahu bahwa daku senang banget pada motor yang dimodifikasi. Alhasil kalo ada motor hasil modifikasi di wilayah yang dekat dengan posisi kami berada, dia suka menginformasikannya padaku (sekedar untuk menikmatinya lewat mata). Tapi entahlah sampai sekarang yang sering muncul di pelupuk mataku hanya modifikasi Vespa. Kalo motor yang lain-lain masih jarang, 1:5 lah dengan Vespa.
Kalo mulai ngomongin Vespa ada seorang teman yang selalu nempel dalam ingatanku. Hmmm....namanya Rahman Hidayat (bisa lihat profilnya di http://www.facebook.com/home.php?#!/profile.php?id=100000149646052). Rahman ini suka banget sama yang namanya Vespa, sampai-sampai nama facebooknya aja "Love Banget Scooterz --yang merujuk pada Vespa miliknya). Sering banget liat dia bawa Vespa, ke kampus pun bawa Vespa --hanya dia yang ke kampusku bawa Vespa.
Pengen banget sieh nyobain Vespa dia. Cuma sayang seribu sayang...daku ga bisa mengendarai yang namanya kendaraan roda dua --selain sepeda. Dibonceng sama dia??? Ugh....kayaknya masih enggan....! Pengennya sama suami sendiri, hihihihi.....!
Seperti biasa jika ada yang unik aku suka gatal untuk mendokumentasikannya. Hehehhehe....berbekal kamera Nokia milik Ariandy Guspermana, akupun mendokumentasikan moment nongkrongnya Rahman di kampus ditemani kawan-kawan dan Vespanya.
(Dari kiri ke kanan, Rahman Hidayat-Fariz-Ariandy Guspermana : Sedang menikmati waktu luang usai kuliah di depan Kampus STIA Banten).
(Ngobrol ma teman emang asyik...kayaknya akan jadi kenangan yang indah)
(Baru nyadar kalo sedang jadi objek foto, so liat kamera dah....!)
(Gak seru kalo ngobrol tapi perut karokean, so....Mie Ayam yang biasa mangkal di depan kampus kayaknya jadi inceran)
(Ini sieh bukan diriku yang mengambil fotonya, entah siapa...tapi yang jelas ada di handphone milik Ariandy dan bisa dilihat di http://www.facebook.com/#!/photo.php?fbid=1291403824691&set=a.1291401664637.33323.1818140943)
Sejauh penglihatanku, Rahman --atau yang biasa disebut Martin oleh teman-teman seangkatanku ini-- sangat cinta sama benda yang satu itu. Yang namanya dah hobi ya pasti akan menjadi sesuatu yang indah dan takkan tergantikan. Sedikitnya dengan seringnya melihat Vespa aku pun mulai menyukainya (PENGEN PUNYA TAPI MENURUT INFO HARGANYA MAHAL....!).
Begitulah ada hal unik yang kerap dihadirkan oleh teman-teman sehingga menimbulkan sensasi suka dipikiran dan hatiku. Dan rupanya itulah yang menjadi benih kerinduan. Hal yang dahulu luput dari perhatian atau hanya sesekali saja diperhatikan pun menjadi hal besar yang ingin dipublikasikan.
Dan kini Vespa Biru milik Rahman yang tak pernah kuelus ini pun menjadi inspirasi penghias lembar-lembar catatan. Vespa yang dahulu sebatas kujadikan obyek foto dan tersimpan rapih dalam file tanpa dibuka kembali pun menjadi sesuatu yang ingin kuulas dalam blog. Vespa yang dahulu sempat kuanggap jadul membuahkan benih rindu pada teman-teman yang kerap membuatku tersenyum.
Label:
BIDIKANKU,
KAMPUS,
KENANGAN BERSAMA SAHABAT,
LIFESTYLE
Rabu, 13 Oktober 2010
SKETSA WAJAH DI DUKA KECELAKAAN IIS KHOLISOH
Hari ini kembali mengobrak-abrik isi blog. Masih berambisi untuk memiliki blog yang oke punya (baik secara tampilan luar, maupun secara kualitas/isi tulisan). Maklumlah punya impian untuk jadi penulis jadi menghibur hati saja (biarpun gak jadi penulis terkenal lewat buku-buku yang dipasarkan, daku akan tetap menulis lewat blog --anggap saja semua orang membacanya).
Setelah kelar dengan merubah tampilan blog maka saatnya untuk memikirkan isi tulisan yag akan di posting (Kan gak lucu kalo punya blog tapi ga pernah di-update tulisannya). Kebisaanku kalo lagi mentok gini..., ya buka-buka file yang ada di hp mini dengan harapan ada arsip tulisan yang oke untuk di posting ke layar blogku. Dan....wuidih....akhirnya sebuah folder yang berjudul "SKETSA WAJAH" mengingatkanku akan sesuatu.
Folder SKETSA WAJAH berisi dua file hasil bidikanku.
Untuk menyalurkan hasrat menjadi wartawan (padahal kuliah di Administrasi Bisnis) aku memang suka gatal kalo liat kamera (meski cuma kamera handphone), bawaannya pengen memotret mulu. Tapi kasus pada diriku, motretnya harus yang ada kaitannya dengan peristiwa-peristiwa tertentu. Aku suka males kalo sengaja motret orang yang gayanya dibuat-buat, soalnya daku malah ikut tergoda untuk jadi model fotonya (*bakat narsis mode:on*).
Di bidikanku yang sketsa wajah ini ada tiga orang teman yang jadi korban. Tentu saja mereka kusebut korban oleh sebab tak seorangpun dari mereka menyadari bahwa diri mereka tengah jadi korban bidikanku. Entahlah aku tak tahu pasti mengapa mereka tak menyadarinya. Mungkin karena mereka bersedih atas musibah yang menimpa teman kami atau mereka memang lagi bosen nunggu jadwal besuk. Yang jelas mereka tak tahu akan kejahilanku sampai pada akhirnya aku menunjukkan hasilnya.
Foto itu memang dibidik saat adanya musibah yang menimpa teman sekelas di bangku kuliah. Tak tahu pasti waktu (yang tepat) kejadiannya. Yang jelas...hari Rabu di Januari 2010 itulah kami berkumpul di RS Sari Asih Serang untuk membesuk teman sekelas kami. Saat itu Iis Kholisah teman seangkatan di Administrasi Bisnis STIA Banten mengalami kecelakaan saat hendak berangkat kuliah pada hari Selasa sebelumnya. Menurut dokter....ia mengalami patah tulang di bagian dada dan parahnya ini menutupi saluran nafasnya, hingga harus dilakukan operasi untuk mengakali/membuat saluran nafas.
Tentu saja sebagai teman kami sangat prihatin. Bahkan tak lagi memperdulikan jadwal kuliah. Kami nego ke dosen meminta diberikan waktu untuk menjenguk dan meminta agar jadwal di Rabu pukul 15.00 WIB itu di alihkan ke hari lain. Kami panik...karena keluarga teman kami mengabarkan bahwa pihak RS Sari Asih Serang sudah tidak sanggup untuk menangani dan kemungkinan akan dipindah ke Jakarta. Untung saja dosen kami care.
Inilah gambaran wajah teman-temanku saat ada di RS Sari Asih Serang kala tengah menunggu jam besuk. Wajah-wajah yang harus bersabar menunggu waktu besuk. Wajah-wajah yang miris melihat keadaan teman yang terbaring sakit (yang hanya bisa dilihat melalui jendela kaca tanpa bisa menyentuh terlebih mendekap). Wajah-wajah yang hanya cukup puas mendengar penjelasaan kondisi teman melalui cerita keluarganya tanpa bisa merasakan detak nadi dan hembusan nafasnya.
Semoga saat ini kita masih merasakan bawha Alm. Iis Kholisah adalah bagian dari kita. Kenangan bersamanya adalah hal manis yang terus dikenang. Tentunya ada do'a-do'a yang terucap untuknya.
Rabu, 06 Oktober 2010
AWAL PERKENALAN DENGAN NASI KUCING
Saat pertama kali mendengar makanan bernama “NASI KUCING” ada rasa jijik yang timbul di benak saya. Pada saat itu saya membayangkan nasi yang sedang dilahap seekor kucing. Tapi imajinasi saya tidak terlalu wah…., tidak sampai membayangkan kucing kecil item yang kurus dengan mata penuh belek, sebatas terbayang kucing yang biasa ada di rumah orang tua saya (yang lumayan gemuk dengan mata jernih dan bulu belang putih-orange). Walaupun begitu tetap saja saya jijik jika membayang manusia memakan nasi bekas kucing ataupun memakan nasi yang hanya layak dimakan kucing.
Tapi pada akhirnya rasa penasaran itu muncul juga. Terlebih teman saya meng-update status tentang asyiknya makan nasi kucing. Saya yang saat itu terkena virus doyan berburu kuliner pun terpancing untuk mencicipinya.
Alhasil saat berkunjung ke rumah saudara, yang ada di wilayah sekitar Carrefour Cikokol, saya niatkan untuk berburu Nasi Kucing. Saat itu tak tahu harus mencari Nasi Kucing dimana. Saudara saya juga tak tahu akan Nasi Kucing, bahkan baru tahu dari saya tentang nasi kucing. Memang sebelumnya saya pernah lihat ada Angkringan Nasi Kucing, tapi itu di wilayah Pasar Kemis yang berarti jauh sekali dari Cikokol. Tapi ternyata keberuntungan masih berpihak pada saya, saat saya berada di depan Dunkin' Donuts Cikokol, mata saya menangkap Angkringan Nasi Kucing. Maka saya pun memantapkan hati untuk mampir.
Awalnya aneh juga dengan tampilan Angkringan Nasi Kucing tersebut. Saya hanya terbelalak mendapati bungkusan daun pisang berisi nasi seupil yang dilengkapi seekor teri kecil dan sambal (Saya tertawa dalam hati, mentang-mentang nasi kucing isinya juga kaya mau ngasih makan kucing). Untungnya di angkringan tersebut ada lauk yang lain pula (tempe, tahu, ceker ayam, kepala ayam, gorengan, sate telur puyuh, sate ampela dan lainnya). Sebagai minumannya ada lumayan banyak variasi juga rupanya....(ada teh jahe, susu jahe, kopi dan teh manis).
Rupanya rasanya tak sejijik yang saya bayangkan. Wow...., justru uenak tenan....! Nasi, teri dan sambalnya menjadi satu kesatuan yang mak nyos. Walaupun seuprit tetap membuat saya kenyang...(untuk porsi saya itu dah cukup karena ternyata kecil-kecil nasinya berisi, kalau yang merasa kurang tidak ada salalahnya nambah). Terlebih aroma lauknya yang dibakar kian menambah asyiknya makan. Saat itu saya tak tahu jika meminum jahe susu akan membuat kenikmatan semakin terasa lengkap. Saya malah hanya memilih minum air jahenya saja.
Kejutan datang lagi di akhir acara makan. Saat menanyakan harga makanan dan minuman yang saya makan, hati saya kaget bercampur gembira. Ternyata sebungkus nasi kucing, satu tahu, dua gorengan, satu ceker dan segelas jahe tak begitu menyita uang. Saya lupa antara Rp. 7.000,00 atau Rp. 8000,00 uang yang harus saya bayarkan, tapi yang jelas satu dari dua pilihan tersebut.
Yang jelas ini jajanan murah bukan? Rasanya ini patut dicoba sebagai referensi wisata kuliner. Bagi teman-teman yang belum mencoba silahkan untuk hunting. Jujur saya pun ketagihan.
Tapi pada akhirnya rasa penasaran itu muncul juga. Terlebih teman saya meng-update status tentang asyiknya makan nasi kucing. Saya yang saat itu terkena virus doyan berburu kuliner pun terpancing untuk mencicipinya.
Alhasil saat berkunjung ke rumah saudara, yang ada di wilayah sekitar Carrefour Cikokol, saya niatkan untuk berburu Nasi Kucing. Saat itu tak tahu harus mencari Nasi Kucing dimana. Saudara saya juga tak tahu akan Nasi Kucing, bahkan baru tahu dari saya tentang nasi kucing. Memang sebelumnya saya pernah lihat ada Angkringan Nasi Kucing, tapi itu di wilayah Pasar Kemis yang berarti jauh sekali dari Cikokol. Tapi ternyata keberuntungan masih berpihak pada saya, saat saya berada di depan Dunkin' Donuts Cikokol, mata saya menangkap Angkringan Nasi Kucing. Maka saya pun memantapkan hati untuk mampir.
Awalnya aneh juga dengan tampilan Angkringan Nasi Kucing tersebut. Saya hanya terbelalak mendapati bungkusan daun pisang berisi nasi seupil yang dilengkapi seekor teri kecil dan sambal (Saya tertawa dalam hati, mentang-mentang nasi kucing isinya juga kaya mau ngasih makan kucing). Untungnya di angkringan tersebut ada lauk yang lain pula (tempe, tahu, ceker ayam, kepala ayam, gorengan, sate telur puyuh, sate ampela dan lainnya). Sebagai minumannya ada lumayan banyak variasi juga rupanya....(ada teh jahe, susu jahe, kopi dan teh manis).
Rupanya rasanya tak sejijik yang saya bayangkan. Wow...., justru uenak tenan....! Nasi, teri dan sambalnya menjadi satu kesatuan yang mak nyos. Walaupun seuprit tetap membuat saya kenyang...(untuk porsi saya itu dah cukup karena ternyata kecil-kecil nasinya berisi, kalau yang merasa kurang tidak ada salalahnya nambah). Terlebih aroma lauknya yang dibakar kian menambah asyiknya makan. Saat itu saya tak tahu jika meminum jahe susu akan membuat kenikmatan semakin terasa lengkap. Saya malah hanya memilih minum air jahenya saja.
Kejutan datang lagi di akhir acara makan. Saat menanyakan harga makanan dan minuman yang saya makan, hati saya kaget bercampur gembira. Ternyata sebungkus nasi kucing, satu tahu, dua gorengan, satu ceker dan segelas jahe tak begitu menyita uang. Saya lupa antara Rp. 7.000,00 atau Rp. 8000,00 uang yang harus saya bayarkan, tapi yang jelas satu dari dua pilihan tersebut.
Yang jelas ini jajanan murah bukan? Rasanya ini patut dicoba sebagai referensi wisata kuliner. Bagi teman-teman yang belum mencoba silahkan untuk hunting. Jujur saya pun ketagihan.
BUKU GILALOVA 2
Setelah sukses dengan kisah cinta remaja di GILALOVA 1, kembali Gong Publishing akan menerbitkan Gilalova 2. Antologi cerpen bersama 27 penulis Banten ini memuat 25 kisah cinta khas remaja. Dengan kisah-kisah yang di-setting wilayah Banten, setidaknya pembaca akan tahu beberapa wilayah yang ada di Banten. Dan spesialnya Gilalova dua bertema "Cinta Takkan Kemana-mana".
Kali ini diriku ikut berperan serta dalam proses penerbitannya. Dengan menyumbangkan satu cerpen bergenre percintaan remaja dengan judul “IMPIAN TERBANG KUPU-KUPU PATAH SAYAP”. Aku ikut meramaikan lembar demi lembar buku antologi cerpen ini dengan nama pena Zara Fauziah Disyafa.
Cerpenku mengisahkan tentang cinta bertepuk tangan seorang mahasiswi kepada aktivis kampusnya. Ironisnya cintanya ini telah digembar-gemborkan oleh wanita tersebut dan kerap memenuhi dinding facebook. Tentu saja hal ini menuai cibiran dari teman-temannya (baik teman-teman di dunia maya maupun di dunia nyata bernama kampus). Akhirnya ia merasa telah mempermalukan dirinya. Di saat menghadapi hal berat tersebut ia memutuskan untuk pergi dari kampus dan tidak akan kembali lagi. Bagaimana kelanjutan kisahnya? Apakah ia rela mengorbankan kuliahnya demi mempertahankan rasa malu yang menggerogoti? Apakah lelaki itu berubah pikiran lalu menyambut cintanya?
Tunggu kisahnya di GILALOVA 2 yang akan launching beberapa waktu mendatang. Bila pesan sekarang melaui penulisnya, dalam hal ini saya maka teman-teman bisa beli dengan harga lebih miring dibandinkan dari harga dipasaran. Nanti ordernya bisa via FB Zara Fauziah Disyafa atau via e-mail ekasofyafauziah@yahoo.com. Bisa pesan sekarang.
Kali ini diriku ikut berperan serta dalam proses penerbitannya. Dengan menyumbangkan satu cerpen bergenre percintaan remaja dengan judul “IMPIAN TERBANG KUPU-KUPU PATAH SAYAP”. Aku ikut meramaikan lembar demi lembar buku antologi cerpen ini dengan nama pena Zara Fauziah Disyafa.
Cerpenku mengisahkan tentang cinta bertepuk tangan seorang mahasiswi kepada aktivis kampusnya. Ironisnya cintanya ini telah digembar-gemborkan oleh wanita tersebut dan kerap memenuhi dinding facebook. Tentu saja hal ini menuai cibiran dari teman-temannya (baik teman-teman di dunia maya maupun di dunia nyata bernama kampus). Akhirnya ia merasa telah mempermalukan dirinya. Di saat menghadapi hal berat tersebut ia memutuskan untuk pergi dari kampus dan tidak akan kembali lagi. Bagaimana kelanjutan kisahnya? Apakah ia rela mengorbankan kuliahnya demi mempertahankan rasa malu yang menggerogoti? Apakah lelaki itu berubah pikiran lalu menyambut cintanya?
Tunggu kisahnya di GILALOVA 2 yang akan launching beberapa waktu mendatang. Bila pesan sekarang melaui penulisnya, dalam hal ini saya maka teman-teman bisa beli dengan harga lebih miring dibandinkan dari harga dipasaran. Nanti ordernya bisa via FB Zara Fauziah Disyafa atau via e-mail ekasofyafauziah@yahoo.com. Bisa pesan sekarang.
Rabu, 29 September 2010
Menjadi Penulis: Impian atau Sebatas Ingin?
(Sebuah renungan seseorang yang tengah meniti mimpi menjadi penulis)
“Rajin mengintip update status serta note FB milik Pipit Senja dan buah hatinya –Butet dan Haekal Siregar, mengirim permintaan pertemanan pada Facebooker –yang kelihatannya– senang menulis, hingga akhirnya didatangi Tias Tatanka dalam mimpi.”
Impian itu berbeda dengan keinginan. Pada dasarnya keinginan akan mudah menguap seiring dengan rasa jemu yang hadir dalam benak kita. Sementara impian ibarat energi yang membuat kita mampu melakukan berbagai hal untuk meraihnya.
Bisa jadi impian yang kita miliki berawal dari keinginan. Hal itu bisa saja terjadi, toh nyatanya banyak karya yang berawal dari ketidaksengajaan. Tapi begitulah, mereka yang cerdas mampu merubah hal sepele menjadi luar biasa oleh sebab keinginan untuk menambahkan nilai lebih pada yang biasa tersebut menjadi ”LUAR BIASA”. Alhasil saat berbagai langkah dilakukan sebagai wujud usaha untuk memenuhi keinginan, maka keinginan tersebut bukan lagi menjadi sebuah keinginan tetapi telah berbuah manis menjadi impian.
Namun tak jarang cita-cita yang telah kita canangkan hanya bermuara pada sebatas keinginan. Tak jauh-jauh contohnya, aku di masa kecil punya banyak cita-cita profesi (mulai dari Polisi Lalu Lintas, Guru Bahasa Indonesia, wartawan, bidan, ahli pertanian, model, arsitek, penulis, ahli IT, serta lain sebagainya) namun semuanya belum ada yang kesampaian bahkan terlupakan begitu saja lalu tergantikan oleh cita-cita yang lain. Rupanya cita-citaku hanya sebatas keinginan yang tak diiringi langkah-langkah konkrit untuk mewujudkannya (walaupun ada, hanya satu-dua langkah lalu berhenti karena lelah ataupun jenuh). Cita-cita yang dulu pernah mendesak untuk diwujudkan itu menguap dan terlupakan begitu saja.
Jika diperbolehkan melakukan pembelaan atas kegagalan dalam mempertahankan dan meraih cita-cita tersebut, aku punya banyak pembelaan. Tapi ini kan bukan sidang pengadilan yang mempunyai waktu luang untuk mendengarkan pembelaanku, jadi aku tak akan membahasnya. Saat ini aku hanya ingin mengatakan bahwa kini –oleh sebab karena faktor keadaan yang tak memungkinkan, hehhee….bela diri lagi nih– aku telah mengganti cita-citaku. Kini cita-citaku ialah menjadi Mom Entreupreneurship –sebagai langkah awal, inginnya jadi karyawan sebagai bekal lebih oke dalam memulai jadi wirausaha, kemudian menjadi dosen wirausaha serta penulis.
Jika berbicara mengenai ketiga cita-citaku tadi mungkin hanya ada satu yang baru, yaitu Mom Entreupreneurship. Yah…., Mom Entreupreneurship terhitung cita-cita baru bagiku. Niat itu baru muncul saat aku terpaksa mengambil kuliah di STIA Banten dengan Program Studi Ilmu Adminstrasi Bisnis –yah…, terpaksa karena ini opsi terakhir yang dipilih, satunya-satunya problem solving atas kendala biaya yang menghadang saat hendak kuliah.
Sementara cita-cita dosen bisa jadi imbas dari keinginan tertahan untuk menjadi guru. Yah dulu sempat ingin menjadi Guru Bahasa Indonesia, hal ini terinspirasi saat ada guru baru di SD tempatku belajar –kebetulan beliau ahli dalam Bahasa Indonesia dan mengajar bidang studi tersebut di SMP Negeri di kampungku. Begitulah cita-cita ini terhenti, saat di Madrasah Aliyah lebih menyukai komputer dan ingin menjadi ahli IT. Tapi tetep waktu itu pengen juga menjadi guru IT. Maka setelah kini tahu bahwa dengan melanjutkan pendidikan ke jenjang lebih tinggi, menambah wawasan, serta keikhlasan untuk mengabdi, menjadi dosen pun menjadi pilihan. Hanya saja pilihannya mengarah pada dosen wirausaha. Rencananya ingin menjadi dosen praktisi, berhasil dalam praktek kemudian menyalurkannya ke dunia akademik.
Tapi dari sekian cita-cita itu ada yang spesial. Dari kecil sampai kini, kata “Menjadi Penulis” tetap terucap saat ditanya tentang hal yang ingin dicapai. Meski sampai sekarang belum ada karya nyata yang bisa dijadikan sebagai bukti bahwa “Menjadi Penulis” benar-benar aku inginkan.
Suami sempat protes. “Banyak banget cita-citanya. Mana yang mau dijalankan?” tanyanya. Tentu saja aku membela diri, “Nggak lah…, bisa dijalankan semuanya kok. Pengusaha sebagai upaya ngumpulin uang, sebagai bekal juga buat ngejar jenjang pendidikan lebih tinggi. Justru kalau usahanya sukses berarti agak freedom waktu, karena kita adalah bosnya jadi bisa luangkan waktu buat jadi dosen. Kan ilmunya lebih oke kalau dibagi ma orang lain juga. Kalau penulis, mesti dicapai agar ilmu kita gak hanya sebatas di lingkungan terdekat tapi menyebar lewat buku-buku, selain itu walaupun kita sudah meninggal tapi karya kita akan mencipta jejak,” aku menjelaskan panjang lebar.
Sebagaimana dijelaskan sebelumnya bahwa impian akan mengantarkan kita pada langkah-langkah dalam upaya berusaha mewujudkan apa yang dicita-citakan. Sejauh ini aku terlihat kembang-kempis dalam menunjukkan minatku untuk menjadi penulis. Aku malas untuk mengirim tulisan ke media –majalah ataupun koran– alasannya karena merasa yakin yang ngirim tulisan banyak dan redaktur tidak akan sempet meriksanya satu-satu, aku khawatir usahaku sia-sia. Bahkan saat mengetahui ada lomba menulis, aku baru benar-benar memikirkan naskah menjelang detik-detik terakhir dedline penutupan penerimaan naskah (alhasil naskah yang dikirimkan kurang maksimal gregetnya, bahkan adapula yang tak sempat dikirim karena terlanjut ditutup). Kini saat ada media online yang memberikan kesempatan pada kita untuk memperlihatkan karya pada halayak ramai di dunia maya, aku masih ogah upload tulisan, masih dengan alasan klise “males karena kadang-kadang loading lama di koneksi internetnya”.
Semangat yang Sedang Mekar
Ditengah pesta pusing yang dirayakan otak akibat belum punya kerjaan dan skripsi yang belum juga kelar, semangat menulis itu pun mekar. Gara-garanya sepele –Juli 2010– lalu aku menikah, karena keinginan untuk memberikan cinderamata yang unik untuk para tamu maka aku dan suami memutuskan untuk memberikan buku mini berisi cerpen karyaku sebagai cindramata dan ternyata ada yang suka. Jelas saja aku makin rajin nulis cerpen.
Tak hanya itu, berbagai upaya aku lakukan. Mengirim cerpen ke media menjadi aktivitas baruku (meski hanya via e-mail saja), tapi begitulah sampai sekarang belum ada yang lolos untuk diterbitkan. Hunting informasi lomba menulis pun menjadi hobi baru. Ironisnya kini rajin mengintip update status serta note FB milik Pipit Senja dan buah hatinya –Butet dan Haekal Siregar– karena berharap dapat ilmu menulis dari mereka (semoga kalo mereka baca tidak merasa di mata-matai). Dan jika beberapa hari lalu rajin update status tentang rasa cinta pada suami, kini lebih menyukai mengirim permintaan pertemanan pada Facebooker –yang kelihatannya– senang menulis. Kini akun-akun aku pun tercecer di blogspot, kompasiana, multiply serta facebook, dengan harapan dapat mempublikasikan tulisan ke khalayak.
Puncaknya, saat sebuah pesan masuk ke inbox FB. Hilal Ahmad –sang pelopor GILALOVA 2 dari Rumah Dunia– mengirimi pesan yang isinya menjelaskan bahwa cerpenku diterima sebagai salah saatu cerpen dari 25 cerpen yang akan diterbikan dalam GILALOVA 2. Ini sih….masih rencana, baru akan dirilis, belum diterbitkan. Masih butuh persiapan yang lainnya. Semoga saja berjalan lancar
Tapi toh tetap ini seperti angin segar. Ingin rasanya terus berkarya hingga pesan-pesan seperti itu tak hanya dari Hilal, tak hanya satu kali. Maka aku kian senang menulis. Bangun tidur menulis meski hanya beberapa rangkai kalimat. Sebelum tidur menulis meski hanya beberapa saat. Hingga akhirnya pada Minggu malam (05 September 2010) lalu tidurku seperti didatangi Tias Tatanka )istri Gola Gong dan juga pendiri Rumah Dunia), ia bercerita tentang pentingnya berlatih agar menjadi penulis hebat.
”Menjadi Penulis!”
”Benarkah ini impian?”
”Benarkah tak sebatas ingin saja, agar populer seperti mereka yang telah dahulu populer karena menulis?”
”Semoga semangat yang kini tengah ada mengubah ingin menjadi impian hingga aku tak lelah untuk membuatnya menjadi nyata!”
Amien…..!
“Rajin mengintip update status serta note FB milik Pipit Senja dan buah hatinya –Butet dan Haekal Siregar, mengirim permintaan pertemanan pada Facebooker –yang kelihatannya– senang menulis, hingga akhirnya didatangi Tias Tatanka dalam mimpi.”
Impian itu berbeda dengan keinginan. Pada dasarnya keinginan akan mudah menguap seiring dengan rasa jemu yang hadir dalam benak kita. Sementara impian ibarat energi yang membuat kita mampu melakukan berbagai hal untuk meraihnya.
Bisa jadi impian yang kita miliki berawal dari keinginan. Hal itu bisa saja terjadi, toh nyatanya banyak karya yang berawal dari ketidaksengajaan. Tapi begitulah, mereka yang cerdas mampu merubah hal sepele menjadi luar biasa oleh sebab keinginan untuk menambahkan nilai lebih pada yang biasa tersebut menjadi ”LUAR BIASA”. Alhasil saat berbagai langkah dilakukan sebagai wujud usaha untuk memenuhi keinginan, maka keinginan tersebut bukan lagi menjadi sebuah keinginan tetapi telah berbuah manis menjadi impian.
Namun tak jarang cita-cita yang telah kita canangkan hanya bermuara pada sebatas keinginan. Tak jauh-jauh contohnya, aku di masa kecil punya banyak cita-cita profesi (mulai dari Polisi Lalu Lintas, Guru Bahasa Indonesia, wartawan, bidan, ahli pertanian, model, arsitek, penulis, ahli IT, serta lain sebagainya) namun semuanya belum ada yang kesampaian bahkan terlupakan begitu saja lalu tergantikan oleh cita-cita yang lain. Rupanya cita-citaku hanya sebatas keinginan yang tak diiringi langkah-langkah konkrit untuk mewujudkannya (walaupun ada, hanya satu-dua langkah lalu berhenti karena lelah ataupun jenuh). Cita-cita yang dulu pernah mendesak untuk diwujudkan itu menguap dan terlupakan begitu saja.
Jika diperbolehkan melakukan pembelaan atas kegagalan dalam mempertahankan dan meraih cita-cita tersebut, aku punya banyak pembelaan. Tapi ini kan bukan sidang pengadilan yang mempunyai waktu luang untuk mendengarkan pembelaanku, jadi aku tak akan membahasnya. Saat ini aku hanya ingin mengatakan bahwa kini –oleh sebab karena faktor keadaan yang tak memungkinkan, hehhee….bela diri lagi nih– aku telah mengganti cita-citaku. Kini cita-citaku ialah menjadi Mom Entreupreneurship –sebagai langkah awal, inginnya jadi karyawan sebagai bekal lebih oke dalam memulai jadi wirausaha, kemudian menjadi dosen wirausaha serta penulis.
Jika berbicara mengenai ketiga cita-citaku tadi mungkin hanya ada satu yang baru, yaitu Mom Entreupreneurship. Yah…., Mom Entreupreneurship terhitung cita-cita baru bagiku. Niat itu baru muncul saat aku terpaksa mengambil kuliah di STIA Banten dengan Program Studi Ilmu Adminstrasi Bisnis –yah…, terpaksa karena ini opsi terakhir yang dipilih, satunya-satunya problem solving atas kendala biaya yang menghadang saat hendak kuliah.
Sementara cita-cita dosen bisa jadi imbas dari keinginan tertahan untuk menjadi guru. Yah dulu sempat ingin menjadi Guru Bahasa Indonesia, hal ini terinspirasi saat ada guru baru di SD tempatku belajar –kebetulan beliau ahli dalam Bahasa Indonesia dan mengajar bidang studi tersebut di SMP Negeri di kampungku. Begitulah cita-cita ini terhenti, saat di Madrasah Aliyah lebih menyukai komputer dan ingin menjadi ahli IT. Tapi tetep waktu itu pengen juga menjadi guru IT. Maka setelah kini tahu bahwa dengan melanjutkan pendidikan ke jenjang lebih tinggi, menambah wawasan, serta keikhlasan untuk mengabdi, menjadi dosen pun menjadi pilihan. Hanya saja pilihannya mengarah pada dosen wirausaha. Rencananya ingin menjadi dosen praktisi, berhasil dalam praktek kemudian menyalurkannya ke dunia akademik.
Tapi dari sekian cita-cita itu ada yang spesial. Dari kecil sampai kini, kata “Menjadi Penulis” tetap terucap saat ditanya tentang hal yang ingin dicapai. Meski sampai sekarang belum ada karya nyata yang bisa dijadikan sebagai bukti bahwa “Menjadi Penulis” benar-benar aku inginkan.
Suami sempat protes. “Banyak banget cita-citanya. Mana yang mau dijalankan?” tanyanya. Tentu saja aku membela diri, “Nggak lah…, bisa dijalankan semuanya kok. Pengusaha sebagai upaya ngumpulin uang, sebagai bekal juga buat ngejar jenjang pendidikan lebih tinggi. Justru kalau usahanya sukses berarti agak freedom waktu, karena kita adalah bosnya jadi bisa luangkan waktu buat jadi dosen. Kan ilmunya lebih oke kalau dibagi ma orang lain juga. Kalau penulis, mesti dicapai agar ilmu kita gak hanya sebatas di lingkungan terdekat tapi menyebar lewat buku-buku, selain itu walaupun kita sudah meninggal tapi karya kita akan mencipta jejak,” aku menjelaskan panjang lebar.
Sebagaimana dijelaskan sebelumnya bahwa impian akan mengantarkan kita pada langkah-langkah dalam upaya berusaha mewujudkan apa yang dicita-citakan. Sejauh ini aku terlihat kembang-kempis dalam menunjukkan minatku untuk menjadi penulis. Aku malas untuk mengirim tulisan ke media –majalah ataupun koran– alasannya karena merasa yakin yang ngirim tulisan banyak dan redaktur tidak akan sempet meriksanya satu-satu, aku khawatir usahaku sia-sia. Bahkan saat mengetahui ada lomba menulis, aku baru benar-benar memikirkan naskah menjelang detik-detik terakhir dedline penutupan penerimaan naskah (alhasil naskah yang dikirimkan kurang maksimal gregetnya, bahkan adapula yang tak sempat dikirim karena terlanjut ditutup). Kini saat ada media online yang memberikan kesempatan pada kita untuk memperlihatkan karya pada halayak ramai di dunia maya, aku masih ogah upload tulisan, masih dengan alasan klise “males karena kadang-kadang loading lama di koneksi internetnya”.
Semangat yang Sedang Mekar
Ditengah pesta pusing yang dirayakan otak akibat belum punya kerjaan dan skripsi yang belum juga kelar, semangat menulis itu pun mekar. Gara-garanya sepele –Juli 2010– lalu aku menikah, karena keinginan untuk memberikan cinderamata yang unik untuk para tamu maka aku dan suami memutuskan untuk memberikan buku mini berisi cerpen karyaku sebagai cindramata dan ternyata ada yang suka. Jelas saja aku makin rajin nulis cerpen.
Tak hanya itu, berbagai upaya aku lakukan. Mengirim cerpen ke media menjadi aktivitas baruku (meski hanya via e-mail saja), tapi begitulah sampai sekarang belum ada yang lolos untuk diterbitkan. Hunting informasi lomba menulis pun menjadi hobi baru. Ironisnya kini rajin mengintip update status serta note FB milik Pipit Senja dan buah hatinya –Butet dan Haekal Siregar– karena berharap dapat ilmu menulis dari mereka (semoga kalo mereka baca tidak merasa di mata-matai). Dan jika beberapa hari lalu rajin update status tentang rasa cinta pada suami, kini lebih menyukai mengirim permintaan pertemanan pada Facebooker –yang kelihatannya– senang menulis. Kini akun-akun aku pun tercecer di blogspot, kompasiana, multiply serta facebook, dengan harapan dapat mempublikasikan tulisan ke khalayak.
Puncaknya, saat sebuah pesan masuk ke inbox FB. Hilal Ahmad –sang pelopor GILALOVA 2 dari Rumah Dunia– mengirimi pesan yang isinya menjelaskan bahwa cerpenku diterima sebagai salah saatu cerpen dari 25 cerpen yang akan diterbikan dalam GILALOVA 2. Ini sih….masih rencana, baru akan dirilis, belum diterbitkan. Masih butuh persiapan yang lainnya. Semoga saja berjalan lancar
Tapi toh tetap ini seperti angin segar. Ingin rasanya terus berkarya hingga pesan-pesan seperti itu tak hanya dari Hilal, tak hanya satu kali. Maka aku kian senang menulis. Bangun tidur menulis meski hanya beberapa rangkai kalimat. Sebelum tidur menulis meski hanya beberapa saat. Hingga akhirnya pada Minggu malam (05 September 2010) lalu tidurku seperti didatangi Tias Tatanka )istri Gola Gong dan juga pendiri Rumah Dunia), ia bercerita tentang pentingnya berlatih agar menjadi penulis hebat.
”Menjadi Penulis!”
”Benarkah ini impian?”
”Benarkah tak sebatas ingin saja, agar populer seperti mereka yang telah dahulu populer karena menulis?”
”Semoga semangat yang kini tengah ada mengubah ingin menjadi impian hingga aku tak lelah untuk membuatnya menjadi nyata!”
Amien…..!
Selasa, 28 September 2010
SURAT CINTA UNTUK SUAMIKU
Tak usah meragu....
dalam kesederhanaan bahasa, aku memuja
meski tak ada ucap yang merayu....
Tetaplah di sini,dermaga cinta yang pernah kita puja
meski aku tak pandai mengolah sesaji yang sempurna
Dan biarkan...aku memandangmu lebih lama
menghabiskan waktu hingga menutup usia
Seperti potongan adegan sinetron layar kaca.....
aku ingin mendramatisir nuansa cinta kita,
romantisme berbau kesetiaan....
aku ingin menutup mata dalam dekap buru nafasmu nan penuh kehilangan
dalam kesederhanaan bahasa, aku memuja
meski tak ada ucap yang merayu....
Tetaplah di sini,dermaga cinta yang pernah kita puja
meski aku tak pandai mengolah sesaji yang sempurna
Dan biarkan...aku memandangmu lebih lama
menghabiskan waktu hingga menutup usia
Seperti potongan adegan sinetron layar kaca.....
aku ingin mendramatisir nuansa cinta kita,
romantisme berbau kesetiaan....
aku ingin menutup mata dalam dekap buru nafasmu nan penuh kehilangan
MENGENANG H-1 AKAD NIKAH
Hampir 3 bulan aku menjalani pernikahan ini. Saat menjelang hari pernikahan ada banyak hal yang membuatku tersenyum, haru dan bahagia. inilah catatan harianku tempo hari.....
Rabu, 07 Juli 2010
Seperti sebuah mimpi, dalam hitungan jam ke depan aku akan melepas masa lajangku. Semua kebutuhan akad nikah telah dipersiapkan. Pelaminan, penghulu beserta seperangkat surat nikah, hidangan untuk para tamu, bahkan calon suami beserta keluarganya telah tiba dan kini menginap di rumah nenek.
Aku ingin acara esok berlangsung dengan baik dan lancar. Pada akhirnya aku ikut nimbrung dan agak cerewet mengomentari dekorasi dan tata letak tenda serta pelaminan. Bahkan aku rela menjemput keluarga calon suami ke tepi jalan raya, oleh sebab mereka belum hapal arah jalan menuju ke rumah. Awalnya ingin menyuruh orang lain tapi apalah daya semua orang tengah sibuk. Alhasil keluarga calon suamiku kaget karena aku yang menjemput.
Dalam kondisi keluargaku tidak terlalu kental memegang adat. Acara pingit tidak diterapkan pada calon mempelai. Jadi sah-sah saja jika aku menjemput keluarga calon suamiku. Dan rupanya ini cukup membuat kaget keluarga calon suami yang berasal dari Jawa.
Bukan maksud ingin segera bertemu dengan calon suami. Tapi begitulah keadaan memaksaku untuk melakukan itu, jika tidak bisa-bisa calon suami beserta keluarganya tak sampai ke rumah, yang artinya pernikahanku akan batal (hmmmm.....itu menyedihkan). Ini hanya sebuah upaya untuk membuat mereka sampai ke kampungku. Meski pada akhirnya, tetap saja satu mobil yang ada di paling belakang nyasar juga oleh sebab ketinggalan jejak kami yang di depan.
Sejujurnya H-1 menuju akad nikah cukup membuatku deg-degan. Bagaimana tidak, hitungan jam menuju acara pernikahan, hujan terus mengguyur. Sejak kemarin (saat mulai pemasangan tenda), hujan dan petir terus menyapa. Dan kini saat keluarga calon suami mulai tiba di kampungku (guna menghadiri acara akad esok pagi), hujan kembali mengguyur.
Terpaksa mobil yang membawa rombongan suami tidak dapat dioprasikan sampai tujuan (tempat mereka menginap). Mestinya mobil itu harus sampai di rumah nenekku (yang dari umi), tepat di pinggir Mesjid At-Taqwa Pasirgadung (tempat akad besok). Tapi berhubung jalan yang tidak memungkinkan, maka mobil hanya sampai di rumah nenekku (yang dari almarhum bapak), di Kampung Pasir Peutey (dekat ke kuburan almarhum bapak).
Alhasil rombongan suami pun dijemput oleh keluargaku. Berbagai bingkisan yang telah disiapkan keluarga calon suami pun diangkut dengan berjalan kaki. Akhirnya keluarga calon suami harus berjuang dengan berjalan kaki di tanah licin berlumpur untuk sampai di rumah nenekku (yang dari umi). Tetes-tetes gerimis pun mengiringi langkah mereka.
Rabu, 07 Juli 2010
Seperti sebuah mimpi, dalam hitungan jam ke depan aku akan melepas masa lajangku. Semua kebutuhan akad nikah telah dipersiapkan. Pelaminan, penghulu beserta seperangkat surat nikah, hidangan untuk para tamu, bahkan calon suami beserta keluarganya telah tiba dan kini menginap di rumah nenek.
Aku ingin acara esok berlangsung dengan baik dan lancar. Pada akhirnya aku ikut nimbrung dan agak cerewet mengomentari dekorasi dan tata letak tenda serta pelaminan. Bahkan aku rela menjemput keluarga calon suami ke tepi jalan raya, oleh sebab mereka belum hapal arah jalan menuju ke rumah. Awalnya ingin menyuruh orang lain tapi apalah daya semua orang tengah sibuk. Alhasil keluarga calon suamiku kaget karena aku yang menjemput.
Dalam kondisi keluargaku tidak terlalu kental memegang adat. Acara pingit tidak diterapkan pada calon mempelai. Jadi sah-sah saja jika aku menjemput keluarga calon suamiku. Dan rupanya ini cukup membuat kaget keluarga calon suami yang berasal dari Jawa.
Bukan maksud ingin segera bertemu dengan calon suami. Tapi begitulah keadaan memaksaku untuk melakukan itu, jika tidak bisa-bisa calon suami beserta keluarganya tak sampai ke rumah, yang artinya pernikahanku akan batal (hmmmm.....itu menyedihkan). Ini hanya sebuah upaya untuk membuat mereka sampai ke kampungku. Meski pada akhirnya, tetap saja satu mobil yang ada di paling belakang nyasar juga oleh sebab ketinggalan jejak kami yang di depan.
Sejujurnya H-1 menuju akad nikah cukup membuatku deg-degan. Bagaimana tidak, hitungan jam menuju acara pernikahan, hujan terus mengguyur. Sejak kemarin (saat mulai pemasangan tenda), hujan dan petir terus menyapa. Dan kini saat keluarga calon suami mulai tiba di kampungku (guna menghadiri acara akad esok pagi), hujan kembali mengguyur.
Terpaksa mobil yang membawa rombongan suami tidak dapat dioprasikan sampai tujuan (tempat mereka menginap). Mestinya mobil itu harus sampai di rumah nenekku (yang dari umi), tepat di pinggir Mesjid At-Taqwa Pasirgadung (tempat akad besok). Tapi berhubung jalan yang tidak memungkinkan, maka mobil hanya sampai di rumah nenekku (yang dari almarhum bapak), di Kampung Pasir Peutey (dekat ke kuburan almarhum bapak).
Alhasil rombongan suami pun dijemput oleh keluargaku. Berbagai bingkisan yang telah disiapkan keluarga calon suami pun diangkut dengan berjalan kaki. Akhirnya keluarga calon suami harus berjuang dengan berjalan kaki di tanah licin berlumpur untuk sampai di rumah nenekku (yang dari umi). Tetes-tetes gerimis pun mengiringi langkah mereka.
Selasa, 08 Juni 2010
SEJUMPUT ROMANTISME DI UFUK ANGAN
Krrrkkk…krrrkkk…krrrkkk...! Handphone di saku rokku bergetar. Jemariku yang tengah lincah bergerak diantara keybard notebook berhenti seketika. Dengan cekatan kuraih handphone yang tersembunyi dibalik saku.
“SATU HARI MENJELANG ULTAH MY DEAR HUSBAND”. Sebuah memo yang terangkum dalam agenda handphone-ku mengingatkan. Aku tersenyum tipis penuh bahagia. Rasanya tak sabar menanti esok.
Sebelum melanjutkan pekerjaan, kusempatkan mengirim sms pada suamiku tercinta. “Mas cyang…,thnks dah jd bagian t’indah dlm hdpku. Met krj! Btw mlm ni mo mkn pa?”
Aku kembali melanjutkan pekerjaan. Berjibaku dengan pekerjaan --yang lumayan menyita waktu dan pikiran-- tak terlalu membuatku menanti balasan sms dari suamiku. Yang ada dalam benakku hanyalah rancangan konsep majalah edisi spesial Idul Fitri.
“Aduh, Bu Pimred ini giat banget. Makan siang dulu yuk…!” tiba-tiba sebuah suara mengusik pekerjaanku. Rupanya Nina --sang editor-- hendak mengajak makan siang.
Aku tersenyum tipis, “Biasalah, abisnya konsep edisi spesial Idul Fitri belum mateng nieh!” sepertinya dahiku sedikit berkerut.
“Makanya isi dulu perutnya. Otak ga bisa diajak kompromi, kalo perutnya belum disogok,” Nina mengelus-elus perutnya seraya tersenyum.
Aku pun beranjak dari pekerjaan. Sepertinya perutku juga sudah mulai protes, meminta untuk diisi. Maka segera kuikuti langkah Nina untuk hunting makan siang.
Saat makan siang pikiranku tertuju pada Mas Arif, suamiku tercinta. “Kenapa dia gak balas smsku? Dia udah makan belum ya?” usik hatiku. Kemudian kucoba menelepon Mas Arif namun tak mendapat jawaban. Kembali kukirim sms, “Mas…, d’t4get mkn siang! Jg kshtn!”.
Kali ini aku benar-benar mengharapkan balasan sms darinya. Sepertinya rasa kesal mulai menyeruak ke dalam hatiku. Merasa tidak memiliki tempat di hatinya.
Dari siang sampai sore pikiranku tertuju pada Mas Arif yang tak jua membalas smsku. Alhasil pekerjaanku pun terganggu. Ide untuk menjadikan edisi spesial Idul Fitri lebih unik tak jua hadir, padahal dua hari lagi rapat final redaksi.
Tepat pukul 03.00 WIB, aku berniat mengirim sms untuk ungkapkan rasa kesalku, “Bkin BT z!!! Sesibuk apa sieh smpe g punya wkt buat bls sms?”. Belum sempat kukirim sms itu, sebuah sms masuk ke inbox handphone-ku, “Ayam asam manis z. Y, td mkn siang. Thnks!”. Aku menghela nafas panjang, ternyata harus selama ini menunggu balasan sms dari suami yang sangat kucintai. Kuurungkan niat mengirimkan sms yang baru saja kuketik.
Sebelum pulang kusempatkan mampir ke supermarket, sekedar untuk membeli ayam. Aku sangat berharap makan malam kali ini terasa berbeda. Setidaknya ada kecupan mesra ucapan terima kasih. Namun kutepis pikiran itu, karena nyatanya suamiku bukan Farel dalam Cinta Fitri, terlebih seperti Rasulullah yang mesra pada Aisyah r.a, ia hanya Arif yang seorang cuek dan tak terlalu pandai merayu.
Tepat pukul 17.00 WIB, aku sampai di rumah. Alhamdulillah shalat ashar telah kutunaikan, jadi bisa langsung bertempur di dapur, seusai mengganti baju kerja. Sebenarnya hari ini aku cukup lelah, ingin sekali merebahkan badan dan tidur. Terlebih sudah dua malam ini aku begadang untuk menyeleksi usulan konsep dari teman-teman tim redaksi. Tapi kali ini aku harus berjuang untuk membuat suamiku merasa dimanjakan.
Saat memasak rasa ngantuk menyerangku. Berkali-kali aku menguap. Namun aku berusaha untuk tidak tidur. Bisa-bisa ayam yang tengah kurebus gosong jika lengah. Tiba-tiba aku teringat Hae --teman satu kelas saat kuliah dulu-- kebiasaannya mengoleskan minyak kayu putih ke daerah sekitar mata kala terserang kantuk memberikan inspirasi.
Segera kucari minyak kayu putih dan kuoleskan ke daerah sekitar mata. Namun rupanya aku ceroboh, tangan yang penuh baluran cairan minyak kayu putih tak sengaja terkena mata bagian dalam. Jelas saja mataku perih dan panas. Mataku basah berurai air mata.
Dengan menahan perih kulanjutkan perjuangan menyajikan menu yang diminta Mas Arif. Ayam Asam Manis Spesial Aroma Cinta Khas Niken pun akhirnya tersaji jua. Dengan senyum bangga kupandangi hidangan yang tersaji di meja. Sedikitnya harapan untuk mendapatkan pujian dari Mas Arif pun memekar dalam hatiku.
Hatiku mulai gelisah menanti kedatangan Mas Arif. Biasanya pukul 18.00 WIB dia sudah ada di rumah. Tapi kini dia belum jua tiba, padahal waktu sudah menunjukkan pukul 19.45 WIB.
Aku berusaha untuk positif thinking. Aku coba menerka-nerka. Mungkin Mas Arif terjebak macet, atau bisa jadi pekerjaannya banyak hingga harus lembur.
“Assalamu’alikum…!” terdengar suara Mas Arif mengucapkan salam.
“Wa’alikumussalam!” kujawab salam seraya berlari menuju pintu depan rumah.
“Maaf telat. Tadi lembur….!” ucapnya singkat memberi penjelasan walaupun tak kuminta.
“Iya, ga apa-apa!” jawabku seraya menyajikan secangkir teh manis hangat.
Usai Shalat Isya kami makan malam bersama. Wajah Mas Arif terlihat ceria. Sungguh rasanya senang sekali melihatnya tersenyum. Rasanya segala lelah hilang. Bahkan perih yang tadi menyerang mata pun seolah tak pernah ada.
Namun tiba-tiba perasaan indah yang kurasakan pupus seketika, “Duh…bumbunya kurang pas nieh!” komentar Mas Arif disuapan pertama.
“Maaf ya Mas! Mungkin Ade salah kasih bumbunya,” garis wajahku diliputi kekecewaan atas hasil kerjaku sendiri.
“Lain kali tomat dan asemnya dikurangi, garamnya ditambah. Keaseman nieh….!” ucapnya tak memperhatikan perubahan wajahku.
Rasanya hatiku remuk saat itu juga. Ingin sekali ia mengetahui kejadian yang kualami tadi. Ingin rasanya membeberkan perjuangan yang harus aku lakukan untuk menyajikan makanan ini.
Seketika aku teringat Yanti --teman satu angkatanku di kampus-- yang memutuskan menikah saat masih kuliah. Dia pernah bercerita kalau suaminya paling bisa menyenangkan hatinya. Bahkan Yanti yang belum bisa memasak selalu semangat untuk memasak. Pasalnya suaminya selalu memuji masakannya.
“Suamiku gak pernah meledek masakanku,” ucap Yanti, “Enak ga enak, ga diledek!”
“Kok bisa?” tanyaku dengan polos, “Cara ngebdain masakan yang enak dengan yang ga enak gimana?”
“Mudah banget. Kalo dia bilang enak sekali berarti masakanku bener-bener enak, tapi kalo cuma bilang enak berarti ada yang kurang.”
“Sama aja donk, kalo dia bilang enak tetep bikin ga puas, kan dah tau kalo enak persi dia tu kurang oke masakannya,” selorohku.
“Tetep aku seneng,” Yanti meyakinkanku, “kalo dia bilang enak pasti dia akan meneruskan dengan ngomong gini, kalo makannya bareng kamu Yank…tetep makin enak dan sedap,” Yanti tersipu.
“Kok ga makan?” Mas Arif membuyarkan lamunanku.
“Hmmm…, ga papa!” Jawabku kikuk.
“Tadi Mas salah ngomong ya?” tanyanya.
“Ngerasanya?” aku balik bertanya.
“Yah…mana Mas tau lah!”
“Ya udah kalo ga ngerasa ga perlu dibahas,” jawabku berusaha acuh dan menyembunyikan air mata yang hampir menetes.
Bukannya aku tak mau dikritik. Aku ini bukan robot yang tak punya hati. Aku ini hanya wanita biasa yang butuh diperlakukan lembut.
Malamnya aku tak bisa tidur. Pikiranku pun mulai tak karuan. Akhirnya aku membanding-bandingkan Mas Arif dengan lelaki lain.
Aku teringat Anwar, pacar temanku yang bernama Sari. Ia rela berpura-pura hobi makan perment rasa mint, hanya karena tahu Sari gemar makan perment rasa mint. Padahal sejatinya Anwar paling benci perment rasa mint. Tapi demi menyenangkan sang pacar, maka Anwar pun selalu membelikan perment rasa mint kesukaan Sari. Berhubung Sari memintanya untuk makan perment juga, jadinya Anwar ikut makan perment tersebut.
Lalu akupun ingat Defa, suami Rifka, yang bekerja di luar kota. Sesibuk apapun Defa, ia selalu menyempatkan waktu untuk Rifka, sekedar sms ataupun telepon. Bahkan bila siangnya sibuk, maka malam pun digunakan untuk bertelpon ria. Katanya agar tetap terasa dekat. Juga sebagai pengobat lelah setelah seharian berjibaku dengan pekerjaan.
Tanpa terasa malam sudah larut. Satu jam lagi pergantian hari. Aku berusaha untuk tidak tertidur. Aku ingin menjadi orang pertama yang memberikan ucapan selamat hari lahir pada Mas Arif.
Kupandang lekat wajah suamiku yang tengah terlelap. Hatiku yang menyimpan seonggok kesal pada sikapnya luluh jua. Rasanya tak adil bila menuntutnya seperti yang kumau. Ia tetaplah pribadi yang begini adanya, cuek. Sepertinya cinta meredam emosi yang bergejolak di dadaku.
Tepat pukul 23.58 WIB, kubangunkan Mas Arif. “Ehhhh…..!” hanya suara itu yang kudapatkan dari mulutnya. Aku berusaha membangunkannya lagi. Sampai akhirnya ia pun terbangun, walau dengan mata yang tak sempurna terbuka.
“Selamat hari lahir Masku sayang!” aku tersenyum dengan sebungkus kado.
Ia tersenyum, “Makasih de…!” jawabnya seraya mengambil kado yang kusodorkan.
Aku berharap dia akan membuka kado yang kuberikan. Namun yang terjadi jauh dari bayanganku. Tidak ada kecupan di kening. Bahkan parahnya dia kembali tidur. Sementara kado yang kuberikan ia letakkan di meja lampu yang terletak di pinggir ranjang.
“Buka kadonya besok aja ya. Ngantuk banget nieh!” ucapnya tanpa memberikan kesempatan padaku untuk mengucapkan doa yang telah kupersiapkan.
“Semoga umur Mas berkah, karir Mas menanjak, impian-impian Mas menjadi nyata!” ucapku dalam hati.
Akhirnya air mataku tak dapat dibendung. Hatiku terasa perih. Ingin rasanya menjerit mengungkapkan kesal yang menyesakkan dada. Tapi aku tak mungkin melakukan itu, kasihan juga bila harus membuat suamiku tak tidur. Perjalanan Jakarta-Tangerang sekedar untuk menjemput rezeki memang cukup melelahkan. Biarlah perih ini hanya aku yang merasakan. Tidurku pun berurai ai mata meski tanpa isak tangis.
***
Usai shalat subuh kusiapkan sarapan ala kadarnya. Nasi goreng ikan teri kusajikan di meja. Setelah itu, aku kembali tidur.
Mas Arif mendekatiku, “De…, kamu sakit?” ia hendak menyentuh keningku, tapi segera kutepis.
“Ga papa, lagi pengen tidur aja! Sarapan aja duluan,” jawabku sedikit ketus.
Mungkin Mas Arif merasa heran dengan perubahan sikapku. Tak biasanya aku tidur lagi usai Shalat Subuh. Biasanya aku yang mempersiapkan kebutuhan kerjanya. Tapi kali ini aku tak lagi menyiapkan semua kebutuhannya. Parahnya kubiarkan Mas Arif sarapan sendirian.
***
Sepulang kerja, aku memilih berkunjung ke rumah paman. Rasanya aku perlu menenangkan perasaanku. Kebetulan di rumah paman ada si kecil Alia --cucu pertama paman. Setidaknya tingkah bocah tiga tahun itu sering membuatku tertawa. Lagipula rumahnya tak terlalu jauh dari rumahku.
“Ade main k rmh pmn, nengok Alia,” kukirim sms ke Mas Arif.
“Ya udah, nanti Mas jemput!” balas Mas Arif setelah 25 menit berlalu.
“G ush, Ade plng sndri z. Insya Allah pkl. 8 mlm nyampe rmh!”
Ternyata bercanda dengan si kecil Alia cukup mengobati kekesalanku. Sebenarnya aku masih ingin berlama-lama dengan Alia. Bila perlu tidur pun mendekap tubuh kecil Alia. Tapi sesuai janjiku pada Mas Arif, aku harus pulang.
***
Sesampainya di rumah aku cukup keheranan. Rumahku gelap gulita. Entah apa yang terjadi. Yang jelas jantungku berdegup kencang. Aku takut terjadi sesuatu pada Mas Arif.
Kubuka pintu depan. Kucoba telusuri ruang tamu dengan berbekal cahaya dari layar handphone. Kupanggil-panggil Mas Arif, namun tak ada jawaban.
Seketika ada cahaya lilin menghampiri. Dalam keremangan kudapati wajah Mas Arif yang tengah tersenyum. Ia mengenakan kaos hijau lumut yang kuberikan tadi malam. Tangannya membawa kue tart yang berhiaskan lilin bertuliskan angka 28.
“Makasih telah melengkapi hidup Mas. Ini ulang tahun terindah Mas karena telah didampingi istri sepertimu. Maukan menemani Mas rayakan hari lahir?” tanyanya.
Kusambut pertanyaannya dengan anggukan. Tanpa diduga ia mengecup kening ku. “I do love you!” ucap Mas Arif.
Ia membawaku ke ruang makan. Ternyata di atas meja makan sudah tersaji menu-menu kesukaanku. Dari cara menyajikan, dari warna kekentalan bumbu, aku tahu masakan yang tersaji ini hasil karyanya.
“Maaf jika selama ini Mas tak pandai mengungkapkan perasaan sayang ini. Tapi percayalah Mas sangat mencintaimu, de!”
Tak berapa lama Mas Arif membuka agenda coklat miliknya. Ia membuka lembar demi lembar kertas agenda. Sampai pada akhirnya tangannya berhenti pada halaman yang menunjukkan hari pernikahan kami. Di sana tergores dengan jelas tulisan tanganku.
“Sejak pertama kali ade menuliskan ini, sampai sekarang dua bulan pernikahan kita, Mas selalu berusaha mengingat pesan Ade dengan senantiasa membacanya. Harapan Mas, Mas bisa menjadi seperti impian Ade. Maaf bila selama ini Mas belum mampu. Tapi Mas akan belajar!” Mas Arif berusaha meyakinkanku.
Aku sudah tak lagi mampu berucap sepatah katapun. Perasaan haru menyeruak hingga air mata terus membasahi pipi. Isak tangis pun tak dapat lagi kutahan.
Kuraih agenda dari tangan Mas Arif. Kubaca dengan seksama tulisanku itu.
“Kita ibarat kutub Utara dan Selatan. Kita harus sama-sama berjuang mengejar titik keseimbangan kita dengan sama-sama melangkah ke titik tengah. Bukan salah satu diantara kita yang mengejar titik Utara ataupun Selatan, hanya sekedar untuk menyatu. Perjuangan ini terasa berat jika kita tak saling memahami dan bekerjasama.”
(Pandeglang, 06 Juni 2010)
Kutulis dengan penuh cinta untuk tanda mata hari pernikahanku dengan suami tercinta
“SATU HARI MENJELANG ULTAH MY DEAR HUSBAND”. Sebuah memo yang terangkum dalam agenda handphone-ku mengingatkan. Aku tersenyum tipis penuh bahagia. Rasanya tak sabar menanti esok.
Sebelum melanjutkan pekerjaan, kusempatkan mengirim sms pada suamiku tercinta. “Mas cyang…,thnks dah jd bagian t’indah dlm hdpku. Met krj! Btw mlm ni mo mkn pa?”
Aku kembali melanjutkan pekerjaan. Berjibaku dengan pekerjaan --yang lumayan menyita waktu dan pikiran-- tak terlalu membuatku menanti balasan sms dari suamiku. Yang ada dalam benakku hanyalah rancangan konsep majalah edisi spesial Idul Fitri.
“Aduh, Bu Pimred ini giat banget. Makan siang dulu yuk…!” tiba-tiba sebuah suara mengusik pekerjaanku. Rupanya Nina --sang editor-- hendak mengajak makan siang.
Aku tersenyum tipis, “Biasalah, abisnya konsep edisi spesial Idul Fitri belum mateng nieh!” sepertinya dahiku sedikit berkerut.
“Makanya isi dulu perutnya. Otak ga bisa diajak kompromi, kalo perutnya belum disogok,” Nina mengelus-elus perutnya seraya tersenyum.
Aku pun beranjak dari pekerjaan. Sepertinya perutku juga sudah mulai protes, meminta untuk diisi. Maka segera kuikuti langkah Nina untuk hunting makan siang.
Saat makan siang pikiranku tertuju pada Mas Arif, suamiku tercinta. “Kenapa dia gak balas smsku? Dia udah makan belum ya?” usik hatiku. Kemudian kucoba menelepon Mas Arif namun tak mendapat jawaban. Kembali kukirim sms, “Mas…, d’t4get mkn siang! Jg kshtn!”.
Kali ini aku benar-benar mengharapkan balasan sms darinya. Sepertinya rasa kesal mulai menyeruak ke dalam hatiku. Merasa tidak memiliki tempat di hatinya.
Dari siang sampai sore pikiranku tertuju pada Mas Arif yang tak jua membalas smsku. Alhasil pekerjaanku pun terganggu. Ide untuk menjadikan edisi spesial Idul Fitri lebih unik tak jua hadir, padahal dua hari lagi rapat final redaksi.
Tepat pukul 03.00 WIB, aku berniat mengirim sms untuk ungkapkan rasa kesalku, “Bkin BT z!!! Sesibuk apa sieh smpe g punya wkt buat bls sms?”. Belum sempat kukirim sms itu, sebuah sms masuk ke inbox handphone-ku, “Ayam asam manis z. Y, td mkn siang. Thnks!”. Aku menghela nafas panjang, ternyata harus selama ini menunggu balasan sms dari suami yang sangat kucintai. Kuurungkan niat mengirimkan sms yang baru saja kuketik.
Sebelum pulang kusempatkan mampir ke supermarket, sekedar untuk membeli ayam. Aku sangat berharap makan malam kali ini terasa berbeda. Setidaknya ada kecupan mesra ucapan terima kasih. Namun kutepis pikiran itu, karena nyatanya suamiku bukan Farel dalam Cinta Fitri, terlebih seperti Rasulullah yang mesra pada Aisyah r.a, ia hanya Arif yang seorang cuek dan tak terlalu pandai merayu.
Tepat pukul 17.00 WIB, aku sampai di rumah. Alhamdulillah shalat ashar telah kutunaikan, jadi bisa langsung bertempur di dapur, seusai mengganti baju kerja. Sebenarnya hari ini aku cukup lelah, ingin sekali merebahkan badan dan tidur. Terlebih sudah dua malam ini aku begadang untuk menyeleksi usulan konsep dari teman-teman tim redaksi. Tapi kali ini aku harus berjuang untuk membuat suamiku merasa dimanjakan.
Saat memasak rasa ngantuk menyerangku. Berkali-kali aku menguap. Namun aku berusaha untuk tidak tidur. Bisa-bisa ayam yang tengah kurebus gosong jika lengah. Tiba-tiba aku teringat Hae --teman satu kelas saat kuliah dulu-- kebiasaannya mengoleskan minyak kayu putih ke daerah sekitar mata kala terserang kantuk memberikan inspirasi.
Segera kucari minyak kayu putih dan kuoleskan ke daerah sekitar mata. Namun rupanya aku ceroboh, tangan yang penuh baluran cairan minyak kayu putih tak sengaja terkena mata bagian dalam. Jelas saja mataku perih dan panas. Mataku basah berurai air mata.
Dengan menahan perih kulanjutkan perjuangan menyajikan menu yang diminta Mas Arif. Ayam Asam Manis Spesial Aroma Cinta Khas Niken pun akhirnya tersaji jua. Dengan senyum bangga kupandangi hidangan yang tersaji di meja. Sedikitnya harapan untuk mendapatkan pujian dari Mas Arif pun memekar dalam hatiku.
Hatiku mulai gelisah menanti kedatangan Mas Arif. Biasanya pukul 18.00 WIB dia sudah ada di rumah. Tapi kini dia belum jua tiba, padahal waktu sudah menunjukkan pukul 19.45 WIB.
Aku berusaha untuk positif thinking. Aku coba menerka-nerka. Mungkin Mas Arif terjebak macet, atau bisa jadi pekerjaannya banyak hingga harus lembur.
“Assalamu’alikum…!” terdengar suara Mas Arif mengucapkan salam.
“Wa’alikumussalam!” kujawab salam seraya berlari menuju pintu depan rumah.
“Maaf telat. Tadi lembur….!” ucapnya singkat memberi penjelasan walaupun tak kuminta.
“Iya, ga apa-apa!” jawabku seraya menyajikan secangkir teh manis hangat.
Usai Shalat Isya kami makan malam bersama. Wajah Mas Arif terlihat ceria. Sungguh rasanya senang sekali melihatnya tersenyum. Rasanya segala lelah hilang. Bahkan perih yang tadi menyerang mata pun seolah tak pernah ada.
Namun tiba-tiba perasaan indah yang kurasakan pupus seketika, “Duh…bumbunya kurang pas nieh!” komentar Mas Arif disuapan pertama.
“Maaf ya Mas! Mungkin Ade salah kasih bumbunya,” garis wajahku diliputi kekecewaan atas hasil kerjaku sendiri.
“Lain kali tomat dan asemnya dikurangi, garamnya ditambah. Keaseman nieh….!” ucapnya tak memperhatikan perubahan wajahku.
Rasanya hatiku remuk saat itu juga. Ingin sekali ia mengetahui kejadian yang kualami tadi. Ingin rasanya membeberkan perjuangan yang harus aku lakukan untuk menyajikan makanan ini.
Seketika aku teringat Yanti --teman satu angkatanku di kampus-- yang memutuskan menikah saat masih kuliah. Dia pernah bercerita kalau suaminya paling bisa menyenangkan hatinya. Bahkan Yanti yang belum bisa memasak selalu semangat untuk memasak. Pasalnya suaminya selalu memuji masakannya.
“Suamiku gak pernah meledek masakanku,” ucap Yanti, “Enak ga enak, ga diledek!”
“Kok bisa?” tanyaku dengan polos, “Cara ngebdain masakan yang enak dengan yang ga enak gimana?”
“Mudah banget. Kalo dia bilang enak sekali berarti masakanku bener-bener enak, tapi kalo cuma bilang enak berarti ada yang kurang.”
“Sama aja donk, kalo dia bilang enak tetep bikin ga puas, kan dah tau kalo enak persi dia tu kurang oke masakannya,” selorohku.
“Tetep aku seneng,” Yanti meyakinkanku, “kalo dia bilang enak pasti dia akan meneruskan dengan ngomong gini, kalo makannya bareng kamu Yank…tetep makin enak dan sedap,” Yanti tersipu.
“Kok ga makan?” Mas Arif membuyarkan lamunanku.
“Hmmm…, ga papa!” Jawabku kikuk.
“Tadi Mas salah ngomong ya?” tanyanya.
“Ngerasanya?” aku balik bertanya.
“Yah…mana Mas tau lah!”
“Ya udah kalo ga ngerasa ga perlu dibahas,” jawabku berusaha acuh dan menyembunyikan air mata yang hampir menetes.
Bukannya aku tak mau dikritik. Aku ini bukan robot yang tak punya hati. Aku ini hanya wanita biasa yang butuh diperlakukan lembut.
Malamnya aku tak bisa tidur. Pikiranku pun mulai tak karuan. Akhirnya aku membanding-bandingkan Mas Arif dengan lelaki lain.
Aku teringat Anwar, pacar temanku yang bernama Sari. Ia rela berpura-pura hobi makan perment rasa mint, hanya karena tahu Sari gemar makan perment rasa mint. Padahal sejatinya Anwar paling benci perment rasa mint. Tapi demi menyenangkan sang pacar, maka Anwar pun selalu membelikan perment rasa mint kesukaan Sari. Berhubung Sari memintanya untuk makan perment juga, jadinya Anwar ikut makan perment tersebut.
Lalu akupun ingat Defa, suami Rifka, yang bekerja di luar kota. Sesibuk apapun Defa, ia selalu menyempatkan waktu untuk Rifka, sekedar sms ataupun telepon. Bahkan bila siangnya sibuk, maka malam pun digunakan untuk bertelpon ria. Katanya agar tetap terasa dekat. Juga sebagai pengobat lelah setelah seharian berjibaku dengan pekerjaan.
Tanpa terasa malam sudah larut. Satu jam lagi pergantian hari. Aku berusaha untuk tidak tertidur. Aku ingin menjadi orang pertama yang memberikan ucapan selamat hari lahir pada Mas Arif.
Kupandang lekat wajah suamiku yang tengah terlelap. Hatiku yang menyimpan seonggok kesal pada sikapnya luluh jua. Rasanya tak adil bila menuntutnya seperti yang kumau. Ia tetaplah pribadi yang begini adanya, cuek. Sepertinya cinta meredam emosi yang bergejolak di dadaku.
Tepat pukul 23.58 WIB, kubangunkan Mas Arif. “Ehhhh…..!” hanya suara itu yang kudapatkan dari mulutnya. Aku berusaha membangunkannya lagi. Sampai akhirnya ia pun terbangun, walau dengan mata yang tak sempurna terbuka.
“Selamat hari lahir Masku sayang!” aku tersenyum dengan sebungkus kado.
Ia tersenyum, “Makasih de…!” jawabnya seraya mengambil kado yang kusodorkan.
Aku berharap dia akan membuka kado yang kuberikan. Namun yang terjadi jauh dari bayanganku. Tidak ada kecupan di kening. Bahkan parahnya dia kembali tidur. Sementara kado yang kuberikan ia letakkan di meja lampu yang terletak di pinggir ranjang.
“Buka kadonya besok aja ya. Ngantuk banget nieh!” ucapnya tanpa memberikan kesempatan padaku untuk mengucapkan doa yang telah kupersiapkan.
“Semoga umur Mas berkah, karir Mas menanjak, impian-impian Mas menjadi nyata!” ucapku dalam hati.
Akhirnya air mataku tak dapat dibendung. Hatiku terasa perih. Ingin rasanya menjerit mengungkapkan kesal yang menyesakkan dada. Tapi aku tak mungkin melakukan itu, kasihan juga bila harus membuat suamiku tak tidur. Perjalanan Jakarta-Tangerang sekedar untuk menjemput rezeki memang cukup melelahkan. Biarlah perih ini hanya aku yang merasakan. Tidurku pun berurai ai mata meski tanpa isak tangis.
***
Usai shalat subuh kusiapkan sarapan ala kadarnya. Nasi goreng ikan teri kusajikan di meja. Setelah itu, aku kembali tidur.
Mas Arif mendekatiku, “De…, kamu sakit?” ia hendak menyentuh keningku, tapi segera kutepis.
“Ga papa, lagi pengen tidur aja! Sarapan aja duluan,” jawabku sedikit ketus.
Mungkin Mas Arif merasa heran dengan perubahan sikapku. Tak biasanya aku tidur lagi usai Shalat Subuh. Biasanya aku yang mempersiapkan kebutuhan kerjanya. Tapi kali ini aku tak lagi menyiapkan semua kebutuhannya. Parahnya kubiarkan Mas Arif sarapan sendirian.
***
Sepulang kerja, aku memilih berkunjung ke rumah paman. Rasanya aku perlu menenangkan perasaanku. Kebetulan di rumah paman ada si kecil Alia --cucu pertama paman. Setidaknya tingkah bocah tiga tahun itu sering membuatku tertawa. Lagipula rumahnya tak terlalu jauh dari rumahku.
“Ade main k rmh pmn, nengok Alia,” kukirim sms ke Mas Arif.
“Ya udah, nanti Mas jemput!” balas Mas Arif setelah 25 menit berlalu.
“G ush, Ade plng sndri z. Insya Allah pkl. 8 mlm nyampe rmh!”
Ternyata bercanda dengan si kecil Alia cukup mengobati kekesalanku. Sebenarnya aku masih ingin berlama-lama dengan Alia. Bila perlu tidur pun mendekap tubuh kecil Alia. Tapi sesuai janjiku pada Mas Arif, aku harus pulang.
***
Sesampainya di rumah aku cukup keheranan. Rumahku gelap gulita. Entah apa yang terjadi. Yang jelas jantungku berdegup kencang. Aku takut terjadi sesuatu pada Mas Arif.
Kubuka pintu depan. Kucoba telusuri ruang tamu dengan berbekal cahaya dari layar handphone. Kupanggil-panggil Mas Arif, namun tak ada jawaban.
Seketika ada cahaya lilin menghampiri. Dalam keremangan kudapati wajah Mas Arif yang tengah tersenyum. Ia mengenakan kaos hijau lumut yang kuberikan tadi malam. Tangannya membawa kue tart yang berhiaskan lilin bertuliskan angka 28.
“Makasih telah melengkapi hidup Mas. Ini ulang tahun terindah Mas karena telah didampingi istri sepertimu. Maukan menemani Mas rayakan hari lahir?” tanyanya.
Kusambut pertanyaannya dengan anggukan. Tanpa diduga ia mengecup kening ku. “I do love you!” ucap Mas Arif.
Ia membawaku ke ruang makan. Ternyata di atas meja makan sudah tersaji menu-menu kesukaanku. Dari cara menyajikan, dari warna kekentalan bumbu, aku tahu masakan yang tersaji ini hasil karyanya.
“Maaf jika selama ini Mas tak pandai mengungkapkan perasaan sayang ini. Tapi percayalah Mas sangat mencintaimu, de!”
Tak berapa lama Mas Arif membuka agenda coklat miliknya. Ia membuka lembar demi lembar kertas agenda. Sampai pada akhirnya tangannya berhenti pada halaman yang menunjukkan hari pernikahan kami. Di sana tergores dengan jelas tulisan tanganku.
“Sejak pertama kali ade menuliskan ini, sampai sekarang dua bulan pernikahan kita, Mas selalu berusaha mengingat pesan Ade dengan senantiasa membacanya. Harapan Mas, Mas bisa menjadi seperti impian Ade. Maaf bila selama ini Mas belum mampu. Tapi Mas akan belajar!” Mas Arif berusaha meyakinkanku.
Aku sudah tak lagi mampu berucap sepatah katapun. Perasaan haru menyeruak hingga air mata terus membasahi pipi. Isak tangis pun tak dapat lagi kutahan.
Kuraih agenda dari tangan Mas Arif. Kubaca dengan seksama tulisanku itu.
“Kita ibarat kutub Utara dan Selatan. Kita harus sama-sama berjuang mengejar titik keseimbangan kita dengan sama-sama melangkah ke titik tengah. Bukan salah satu diantara kita yang mengejar titik Utara ataupun Selatan, hanya sekedar untuk menyatu. Perjuangan ini terasa berat jika kita tak saling memahami dan bekerjasama.”
(Pandeglang, 06 Juni 2010)
Kutulis dengan penuh cinta untuk tanda mata hari pernikahanku dengan suami tercinta
Rabu, 31 Maret 2010
MENU HAYALAN
Kali ini rasanya berada dalam rasa terjebak namun menguntungkan. BIasanya jika kita bicara masalah keterjebakan...., maka yang timbul adalah rasa sesal karena telah berada dalam kondisi tersebut. Namun kali ini rasanya berbeda, rasa terjebak yang saya alami membuat nyaman dan bahkan merasa ketagihan.
Malam ini, saya sengaja menyempatkan diri untuk menginap di rumah kontrakan teman-teman perempuan semester delapan. Pokoknya kondisi saya sedang merasa butuh berada diantara keriangan teman-teman. Butuh hiburan pada intinya oleh sebab mumet dengan rutinitas dan pikiran.
Menjelang malam perut menjumpai titik lapar juga. Tiba-tiba seorang teman mengungkapkan keinginannya untuk makan dengan nasi yang dicampur adonan telur. Kontan saja saya mengutarakan keinginan untuk mencoba makanan tersebut. Terlebih teman saya mengatakan kalo makanan tersebut enak.
Pendek kata teman saya tersebut membuatnya. Saya mencobanya dan lumayan enak hanya saja rasanya kurang pas, kata teman saya hal ini dikarenakan tidak pakai lada. Dia meyakinkan kalo pakai lada akan sangat enak.
Saya pun bertekad untuk membuat menu tersebut. Saya beli telur satu butir, penyedap rasa 2 bungkus dan lada bubuk satu bungkus. Dengan semangat saya memasaknya. Saya buat adonan telur yang dikocok bersama bumbu penyedap rasa, lada dan nasi. Kemudian dengan rasa riang saya goreng menu tersebut dan menghidangkannya. Hmmm...teman-teman pun menyambutnya dengan semangat.
Tiba-tiba teman yang mengusulkan menu tadi berkata, "Ternyata walau hayalan lumayan enak juga!"
"Maksudnya, menu nie belum pernah da yang buat sebelumnya?" aku sedikit terbengong.
"Gak tahu juga, tapi belum pernah liat. Tadi cuma hayalan ja," ucapnya sambil nyengir.
"Hmmm...., untung ni makanan enak di makan!" celotehku dengan tetap memakan menu tadi.
Ada hikmah dibalik ni semua. Kita tidak akan pernah tahu sesuatu akan mencapai kesuksesan atau tidak jika tidak pernah mencoba dan memulai. Maka lakukanlah dan jangan hanya berencana. JUST do it.
Malam ini, saya sengaja menyempatkan diri untuk menginap di rumah kontrakan teman-teman perempuan semester delapan. Pokoknya kondisi saya sedang merasa butuh berada diantara keriangan teman-teman. Butuh hiburan pada intinya oleh sebab mumet dengan rutinitas dan pikiran.
Menjelang malam perut menjumpai titik lapar juga. Tiba-tiba seorang teman mengungkapkan keinginannya untuk makan dengan nasi yang dicampur adonan telur. Kontan saja saya mengutarakan keinginan untuk mencoba makanan tersebut. Terlebih teman saya mengatakan kalo makanan tersebut enak.
Pendek kata teman saya tersebut membuatnya. Saya mencobanya dan lumayan enak hanya saja rasanya kurang pas, kata teman saya hal ini dikarenakan tidak pakai lada. Dia meyakinkan kalo pakai lada akan sangat enak.
Saya pun bertekad untuk membuat menu tersebut. Saya beli telur satu butir, penyedap rasa 2 bungkus dan lada bubuk satu bungkus. Dengan semangat saya memasaknya. Saya buat adonan telur yang dikocok bersama bumbu penyedap rasa, lada dan nasi. Kemudian dengan rasa riang saya goreng menu tersebut dan menghidangkannya. Hmmm...teman-teman pun menyambutnya dengan semangat.
Tiba-tiba teman yang mengusulkan menu tadi berkata, "Ternyata walau hayalan lumayan enak juga!"
"Maksudnya, menu nie belum pernah da yang buat sebelumnya?" aku sedikit terbengong.
"Gak tahu juga, tapi belum pernah liat. Tadi cuma hayalan ja," ucapnya sambil nyengir.
"Hmmm...., untung ni makanan enak di makan!" celotehku dengan tetap memakan menu tadi.
Ada hikmah dibalik ni semua. Kita tidak akan pernah tahu sesuatu akan mencapai kesuksesan atau tidak jika tidak pernah mencoba dan memulai. Maka lakukanlah dan jangan hanya berencana. JUST do it.
Rabu, 27 Januari 2010
Konsep Dasar Perdagangan Internasional
Sampai detik ini kita tak dapat mengelak dari hubungan antar negara. Bagaimanapun antara negara yang satu dengan negara yang lain tidak dapat melepaskan diri. Karena pada dasarnya antara negara yang satu dengan negara yang lain memiliki ketergantungan. Hal ini dikarenakan antara negara yang satu dengan negara yang lain memiliki perbedaan Sumber Daya Alam (SDA), Sumber Daya Manusia (SDM), tingkat teknologi, serta faktor kelangkaan.
Seiring dengan perkembangan zaman kebutuhan hidup manusia semakin meningkat baik jenis, kualitas maupun kuntitas serta bentuknya. Kemudian sebagaimana fitrah manusia yang selalu berada pada titik ketidakpuasan maka masalah ekonomi pun muncul. Masalah ekonomi yang muncul adalah kebutuhan manusia yang tidak terbatas sedangkan alat pemuas kebutuhan manusia yang berupa barang dan jasa sangat terbatas.
Oleh karena itu dalam upaya mengatasi masalah yang muncul tersebut dilakukanlah hal-hal berupa memproduksi barang atau jasa untuk meningkatkan daya guna barang atau jasa tersebut, kemudian juga diadakan hubungan untuk memenuhi kebutuhan dan kepentingan masing-masing baik antar individu maupun kelompok. Kemudian dalam upaya memenuhi kebutuhan akan barang dan jasa yang sangat besar, dilakukanlah produksi dan pendistribusian serta pertukaran barang dan jasa secara meluas bahkan antar negara.
Perdagangan antar negara atau perdagangan internasional memang sudah tak dapat dielakkan lagi. Mengenai pengertian perdagangan internasional terdapat berbagai definisi, antara lain adalah :
a.Menurut Kamus Bahasa Indonesia, perdaganga internasional adalah suatu kegiatan jual beli guna memperoleh keuntungan (perdagangan) yang dilakukan dengan melibatkan unsur-unsur dua negara atau lebih (Internasional). Kalau diperluas makna memperoleh keuntungan di sini tidak hanya terfokus pada keuntungan secara finansial saja tetapi juga bisa mengarah pada non finansial seperti untuk kepentingan promosi, persaingan usaha dan keuntungan strategis lainnya.
b.Dalam Wikipedia Indonesia, Perdagangan internasional dimaknai sebagai perdagangan yang dilakukan oleh penduduk suatu negara dengan penduduk negara lain atas dasar kesepakatan bersama. Penduduk yang dimaksud dapat berupa antar perorangan (individu dengan individu), antara individu dengan pemerintah suatu negara atau pemerintah suatu negara dengan pemerintah negara lain.
Dari pengertian-pengertian di atas dapat disimpulkan bahwa perdagangan internasional adalah hubungan tukar menukar barang dan atau jasa yang saling menguntungkan antara penduduk suatu negara dengan negara lainnya.
Sampai sejauh ini perdagangan internasional semakin gencar dilakukan. Adapun faktor-faktor pendorong perdagangan internasional adalah sebagai berikut :
a.Perbedaan sumber daya yang dimiliki
b.Perbedaan kualitas penduduk ditinjau dari segi pendidikan, ekonomi, sosial dan budaya.
c.Perbedaan kemampuan teknologi
d.Perbedaan faktor produksi yang dimiliki
e.Berkembanganya sistem komunikasi dan transportasi
f.Adanya spesialisasi produk
Dan rupanya hampir semua negara tertarik untuk melakukan perdagangan internasional. Hal ini dikarenakan oleh sebab alasan berikut ini :
a.Untuk memenuhi kebutuhan barang dan jasa dalam negeri,
b.Keinginan memperoleh keuntungan dan meningkatkan pendapatan negara,
c.Adanya perbedaan kemampuan penguasaan ilmu pengetahuan dan teknologi dalam mengolah sumber daya ekonomi,
d.Adanya kelebihan produk dalam negeri sehingga perlu pasar baru untuk menjual produk tersebut,
e.Adanya perbedaan keadaan seperti sumber daya alam, iklim, tenaga kerja, budaya, jumlah penduduk yang menyebabkan adanya perbedaan hasil produksi dan adanya keterbatasan produksi,
f.Adanya kesamaan selera terhadap suatu barang,
g.Keinginan membuka kerja sama, hubungan politik dan dukungan dari negara lain, dan
h.Terjadinya era globalisasi sehingga tidak ada satu negara pun di dunia ini dapat hidup sendiri.
Wajar saja bila perdagangan internasional mendapat perhatian untuk dilakukan, terlebih banyak manfaat yang dapat dirasakan dari proses ini. Menurut Sadono Sukirno, manfaat dari perdagangan internasional antara lain adalah :
a.Memperoleh barang yang tidak dapat diproduksi di negeri sendiri
Banyak faktor-faktor yang mempengaruhi perbedaan hasil produksi di setiap negara. Faktor-faktor tersebut diantaranya : kondisi geografis, iklim, tingkat penguasaan iptek dan lain-lain. Dengan adanya perdagangan internaisonal, setiap negara mampu memenuhi kebutuhan yang tidak diproduksi sendiri dari negara lain.
b.Memperoleh keuntungan dari spesialisasi
Sebab utama kegiatan perdagangan luar negeri adalah memperoleh keuntungan keuntungan yang diwujudkan oleh spesialisasi. Walaupun suatu negara dapat memproduksi suatu barang yang sama jenisnya dengan yang diproduksi oleh negara lain, tetapi ada kalanya lebih baik apabila negara tersebut mengimpor barang tersebut dari luar negeri.
c.Memperluas pasar dan memperoleh keuntungan
Terkadang para pengusaha tidak menjalankan mesin-mesinnya (alat produksinya) dengan maksimal karena mereka khawatir akan terjadi kelebihan produksi, yang mengakibatkan turunnya harga produk mereka. Dengan adanya perdagangan internasional, pengusaha dapat menjalankan mesin-mesinnya secara maksimal, dan menjual kelebihan produk tersebut ke luar negeri.
d.Transfer teknologi modern
Perdagangan luar negeri memungkinkan suatu negara untuk memepelajari teknik produksi yang lebih efisien dan cara-cara manajemen yang lebih baik dan modern.
Selain itu masih banyak manfaat yang dapat diambil dari perdagangan internasional, diantaranya adalah :
a.Untuk memenuhi kebutuhan akan barang atau pun jasa
b.Dapat memperoleh barang atau jasa dengan harga yang lebih murah
c.Mendorong kegiatan ekonomi dalam negeri
d.Memperluas lapangan kerja
e.Merupakan sumber pendapatan bagi negara
f.Memperoleh manfaat dari adanya spesialisasi dalam bentuk keunggulan komperatif dan peningkatan kemakmuran
g.Meningkatkan produktivitas dan efisiensi produksi, yang pada dasarnya bersumber pada skala ekonomis dalam proses produksi, teknologi baru, dan rangsangan bersaing.
h.Mendorong terjadinya persaingan sehat yang pada gilirannya menimbulkan perkembangan teknologi
i.Meningkatkan proses tukar-menukar antar negara
j.Meningkatkan perluasan pasar (produksi-konsumsi).
Akan tetapi kita pun menyadari bahwa segala sesuatu tidak selalunya mengalami kemulusan dalam beraktivitas. Begitupun dengan perdagangan internasional, hambatan dalam pelaksanaan kegiatannya sudah menjadi sebuah keniscayaan. Ada beberapa hal yang harus diwaspadai sebagai hambatan dalam kegiatan eksport import, diantaranya adalah :
a.Ancaman Perang
Adanya perang dapat mengganggu stabilitas keamanan perdagangan internasional. Perang dapat mengganggu proses penyaluran barang dan transportasi perdagangan antar negara. Terlebih jika penyaluran barang harus melalui negara konflik. Selain itu adanya perang dapat mengganggu stabilitas ekonomi dunia, tentu ini berakibat pada perdagangan internasional.
b.Perbedaan Tingkat Upah
Setiap negara mempunyai standar tertentu mengenai upah yang diberikan. Antara negara yang satu dengan negara yang lain memilki standar tertentu dalam pemberian gaji, dan tentunya memiliki perbedaan. Hal ini sangat berpengaruh pada perdagangan internasional, karena bagaimana pun perbedaan tingkat upah ini berpengaruh pada perbedaan penentuan harga.
c.Peraturan/Kebijakan Negara Lain
Terkadang pemerintah mengatur kebijakan sedemikian rupa dalam upaya melindungi perdagangan dalam negeri. Dan kadang kala hal ini mengganggu kelancaran perdagangan internasional.
Terkadang adanya perdagangan internasional menjadi momok yang menkutkan bagi pedagang dan produsen dalam negeri. Sebagai upaya perlindungan terhadap pelaku perdagangan dalam negeri, pemerintah pun melakukan berbagai proteksi (penjagaan/pengamanan) dengan cara-cara sebagai berikut :
a.Tarif dan Bea Masuk, Agar barang luar negeri tidak terlalu merebut pasar dalam negeri, maka dilakukan upaya agar barang luar negeri memilki harga yang lebih mahal. Oleh karena itu tarif dan bea masuk dikenakan dengan tinggi terhadap barang luar negeri.
b.Pelarangan Impor, Produksi dari luar negeri sama sekali tidak boleh masuk ke pasar dalam negeri.
c.Pelarangan Ekspor, Produksi dari dalam negeri sama sekali tidak boleh dijual ke luar negeri.
d.Kuota
Kuota adalah pembatasan jumlah barang impor yang boleh masuk ke dlam negeri.
e.Subsidi,Subsidi adalah bantuan pemerintah yang dimaksudkan agar produsen dalam negeri dapat menjual barangnya lebih murah, sehingga mampu bersaing dengan barang impor.
f.Dumping,Dumping adalah kebijakan berupa melakukan pembedaan harga antara barang yang diekspor dan yang dijual di dalam negeri. Biasanya barang yang diekspor lebih murah dari pada barang yang di jual di dalam negeri. Hal ini dilakukan agar barang tersebut mampu bersaing di pasar luar negeri.
Seiring dengan perkembangan zaman kebutuhan hidup manusia semakin meningkat baik jenis, kualitas maupun kuntitas serta bentuknya. Kemudian sebagaimana fitrah manusia yang selalu berada pada titik ketidakpuasan maka masalah ekonomi pun muncul. Masalah ekonomi yang muncul adalah kebutuhan manusia yang tidak terbatas sedangkan alat pemuas kebutuhan manusia yang berupa barang dan jasa sangat terbatas.
Oleh karena itu dalam upaya mengatasi masalah yang muncul tersebut dilakukanlah hal-hal berupa memproduksi barang atau jasa untuk meningkatkan daya guna barang atau jasa tersebut, kemudian juga diadakan hubungan untuk memenuhi kebutuhan dan kepentingan masing-masing baik antar individu maupun kelompok. Kemudian dalam upaya memenuhi kebutuhan akan barang dan jasa yang sangat besar, dilakukanlah produksi dan pendistribusian serta pertukaran barang dan jasa secara meluas bahkan antar negara.
Perdagangan antar negara atau perdagangan internasional memang sudah tak dapat dielakkan lagi. Mengenai pengertian perdagangan internasional terdapat berbagai definisi, antara lain adalah :
a.Menurut Kamus Bahasa Indonesia, perdaganga internasional adalah suatu kegiatan jual beli guna memperoleh keuntungan (perdagangan) yang dilakukan dengan melibatkan unsur-unsur dua negara atau lebih (Internasional). Kalau diperluas makna memperoleh keuntungan di sini tidak hanya terfokus pada keuntungan secara finansial saja tetapi juga bisa mengarah pada non finansial seperti untuk kepentingan promosi, persaingan usaha dan keuntungan strategis lainnya.
b.Dalam Wikipedia Indonesia, Perdagangan internasional dimaknai sebagai perdagangan yang dilakukan oleh penduduk suatu negara dengan penduduk negara lain atas dasar kesepakatan bersama. Penduduk yang dimaksud dapat berupa antar perorangan (individu dengan individu), antara individu dengan pemerintah suatu negara atau pemerintah suatu negara dengan pemerintah negara lain.
Dari pengertian-pengertian di atas dapat disimpulkan bahwa perdagangan internasional adalah hubungan tukar menukar barang dan atau jasa yang saling menguntungkan antara penduduk suatu negara dengan negara lainnya.
Sampai sejauh ini perdagangan internasional semakin gencar dilakukan. Adapun faktor-faktor pendorong perdagangan internasional adalah sebagai berikut :
a.Perbedaan sumber daya yang dimiliki
b.Perbedaan kualitas penduduk ditinjau dari segi pendidikan, ekonomi, sosial dan budaya.
c.Perbedaan kemampuan teknologi
d.Perbedaan faktor produksi yang dimiliki
e.Berkembanganya sistem komunikasi dan transportasi
f.Adanya spesialisasi produk
Dan rupanya hampir semua negara tertarik untuk melakukan perdagangan internasional. Hal ini dikarenakan oleh sebab alasan berikut ini :
a.Untuk memenuhi kebutuhan barang dan jasa dalam negeri,
b.Keinginan memperoleh keuntungan dan meningkatkan pendapatan negara,
c.Adanya perbedaan kemampuan penguasaan ilmu pengetahuan dan teknologi dalam mengolah sumber daya ekonomi,
d.Adanya kelebihan produk dalam negeri sehingga perlu pasar baru untuk menjual produk tersebut,
e.Adanya perbedaan keadaan seperti sumber daya alam, iklim, tenaga kerja, budaya, jumlah penduduk yang menyebabkan adanya perbedaan hasil produksi dan adanya keterbatasan produksi,
f.Adanya kesamaan selera terhadap suatu barang,
g.Keinginan membuka kerja sama, hubungan politik dan dukungan dari negara lain, dan
h.Terjadinya era globalisasi sehingga tidak ada satu negara pun di dunia ini dapat hidup sendiri.
Wajar saja bila perdagangan internasional mendapat perhatian untuk dilakukan, terlebih banyak manfaat yang dapat dirasakan dari proses ini. Menurut Sadono Sukirno, manfaat dari perdagangan internasional antara lain adalah :
a.Memperoleh barang yang tidak dapat diproduksi di negeri sendiri
Banyak faktor-faktor yang mempengaruhi perbedaan hasil produksi di setiap negara. Faktor-faktor tersebut diantaranya : kondisi geografis, iklim, tingkat penguasaan iptek dan lain-lain. Dengan adanya perdagangan internaisonal, setiap negara mampu memenuhi kebutuhan yang tidak diproduksi sendiri dari negara lain.
b.Memperoleh keuntungan dari spesialisasi
Sebab utama kegiatan perdagangan luar negeri adalah memperoleh keuntungan keuntungan yang diwujudkan oleh spesialisasi. Walaupun suatu negara dapat memproduksi suatu barang yang sama jenisnya dengan yang diproduksi oleh negara lain, tetapi ada kalanya lebih baik apabila negara tersebut mengimpor barang tersebut dari luar negeri.
c.Memperluas pasar dan memperoleh keuntungan
Terkadang para pengusaha tidak menjalankan mesin-mesinnya (alat produksinya) dengan maksimal karena mereka khawatir akan terjadi kelebihan produksi, yang mengakibatkan turunnya harga produk mereka. Dengan adanya perdagangan internasional, pengusaha dapat menjalankan mesin-mesinnya secara maksimal, dan menjual kelebihan produk tersebut ke luar negeri.
d.Transfer teknologi modern
Perdagangan luar negeri memungkinkan suatu negara untuk memepelajari teknik produksi yang lebih efisien dan cara-cara manajemen yang lebih baik dan modern.
Selain itu masih banyak manfaat yang dapat diambil dari perdagangan internasional, diantaranya adalah :
a.Untuk memenuhi kebutuhan akan barang atau pun jasa
b.Dapat memperoleh barang atau jasa dengan harga yang lebih murah
c.Mendorong kegiatan ekonomi dalam negeri
d.Memperluas lapangan kerja
e.Merupakan sumber pendapatan bagi negara
f.Memperoleh manfaat dari adanya spesialisasi dalam bentuk keunggulan komperatif dan peningkatan kemakmuran
g.Meningkatkan produktivitas dan efisiensi produksi, yang pada dasarnya bersumber pada skala ekonomis dalam proses produksi, teknologi baru, dan rangsangan bersaing.
h.Mendorong terjadinya persaingan sehat yang pada gilirannya menimbulkan perkembangan teknologi
i.Meningkatkan proses tukar-menukar antar negara
j.Meningkatkan perluasan pasar (produksi-konsumsi).
Akan tetapi kita pun menyadari bahwa segala sesuatu tidak selalunya mengalami kemulusan dalam beraktivitas. Begitupun dengan perdagangan internasional, hambatan dalam pelaksanaan kegiatannya sudah menjadi sebuah keniscayaan. Ada beberapa hal yang harus diwaspadai sebagai hambatan dalam kegiatan eksport import, diantaranya adalah :
a.Ancaman Perang
Adanya perang dapat mengganggu stabilitas keamanan perdagangan internasional. Perang dapat mengganggu proses penyaluran barang dan transportasi perdagangan antar negara. Terlebih jika penyaluran barang harus melalui negara konflik. Selain itu adanya perang dapat mengganggu stabilitas ekonomi dunia, tentu ini berakibat pada perdagangan internasional.
b.Perbedaan Tingkat Upah
Setiap negara mempunyai standar tertentu mengenai upah yang diberikan. Antara negara yang satu dengan negara yang lain memilki standar tertentu dalam pemberian gaji, dan tentunya memiliki perbedaan. Hal ini sangat berpengaruh pada perdagangan internasional, karena bagaimana pun perbedaan tingkat upah ini berpengaruh pada perbedaan penentuan harga.
c.Peraturan/Kebijakan Negara Lain
Terkadang pemerintah mengatur kebijakan sedemikian rupa dalam upaya melindungi perdagangan dalam negeri. Dan kadang kala hal ini mengganggu kelancaran perdagangan internasional.
Terkadang adanya perdagangan internasional menjadi momok yang menkutkan bagi pedagang dan produsen dalam negeri. Sebagai upaya perlindungan terhadap pelaku perdagangan dalam negeri, pemerintah pun melakukan berbagai proteksi (penjagaan/pengamanan) dengan cara-cara sebagai berikut :
a.Tarif dan Bea Masuk, Agar barang luar negeri tidak terlalu merebut pasar dalam negeri, maka dilakukan upaya agar barang luar negeri memilki harga yang lebih mahal. Oleh karena itu tarif dan bea masuk dikenakan dengan tinggi terhadap barang luar negeri.
b.Pelarangan Impor, Produksi dari luar negeri sama sekali tidak boleh masuk ke pasar dalam negeri.
c.Pelarangan Ekspor, Produksi dari dalam negeri sama sekali tidak boleh dijual ke luar negeri.
d.Kuota
Kuota adalah pembatasan jumlah barang impor yang boleh masuk ke dlam negeri.
e.Subsidi,Subsidi adalah bantuan pemerintah yang dimaksudkan agar produsen dalam negeri dapat menjual barangnya lebih murah, sehingga mampu bersaing dengan barang impor.
f.Dumping,Dumping adalah kebijakan berupa melakukan pembedaan harga antara barang yang diekspor dan yang dijual di dalam negeri. Biasanya barang yang diekspor lebih murah dari pada barang yang di jual di dalam negeri. Hal ini dilakukan agar barang tersebut mampu bersaing di pasar luar negeri.
PENTINGNYA MEMBANGUN JARINGAN
Alkisah di sebuah dusun nan jauh di sana. Hiduplah dua orang gadis, sebut saja si Hijau dan si Biru. Si Hijau adalah seorang gadis yang supel, fleksibel, berpendirian keras dengan tingkat kecerdasan yang biasa saja, tidak cantik tapi berusaha tampil menarik bila dalam forum melalui diskusinya serta senang bertualang ke tempt-tempat baru. Si Biru adalah seorang gadis yang cantik, pintar, berpendirian keras, namun tidak terlalu pandai berdiplomasi.
Si Biru memang sangat pintar. Setiap harinya selalu dapat mengumpulkan ranting-ranting kering (persediaan untuk bahan bakar memasak) dalam jumlah yang lebih banyak dari si Hijau. Si Hijau selalu mendapat ranting yang lebih sedikit dari pada si Biru, karena setiap dia mengambil ranting dan bertemu dengan pohon baru selalu menyelidiki secara detil pohon tersebut, selain itu ia lebih senang berjalan ke wilayah baru yang jauh sehingga waktunya lebih banyak dihabiskan di jalan dan mengobrol dengan orang yang ditemuinya dibandingkan dengan mengumpulkan ranting. Yang terpenting bagi si Biru adalah banyaknya ranting yang dikumpulkan sedangkan bagi si Hijau ranting yang banyak juga sangat penting tapi tidak menargetkan dalam jumlah banyak (hanya sebatas persediaan hari ini dan besok) yang terpenting adalah pengalaman-pengalaman barunya yang tidak hanya sekedar tentang ranting.
Suatu ketika ada perlombaan memasak. Dalam perlombaan ini ditetapkan ketentuan bahwa yang menjadi pemenang adalah yang dapat memasak untuk porsi 1000 orang. Si Biru tersenyum lega karena persediaan kayu bakarnya lebih banyak dibandingkan dengan persediaan si Hijau. Si Biru optimis bahwa dialah yang akan memenangkan perlombaan ini.
"Ah...aku yakin aku yang akan menang, waktu perlombaan ini hanya dua hari. Mana sempat si Hijau mengumpulkan kayu bakar dalam jumlah yang banyak sementara ia pun harus memasak. Sedangkan aku tinggal memanfaatkan satu hari ini untuk mencari kayu bakar tambahan dan besoknya aku gunakan untuk memasak," pikir si Biru.
Hari itu si Hijau langsung pergi berkelana ke tempat-tempat kenalannya. Ia meminta bantuan kepada teman-teman yang pernah kenal untuk mencarikan kayu bakar. Semua kenalannya bersemangat membantu. Malam harinya kayu-kayu berdatangan dan melimpah ruah dibandingkan punyanya si Biru.
Sementara si Biru hanya bisa menambah sedikit kayunya karena ditempat biasa ia mencari kayu sudah tidak ada lagi kayu. Saat melihat persediaan si Biru melimpah, ia pun berambisi untuk mendapatkan lebih. Malam itu, ia pun berangkat menjelajah hutan untuk mencari kayu, termasuk ke tempat yang belum ia tempuh. Alhasil ia nyasar, karena ia tak tahu medan dan dalam keadaan gelap. Suaat subuh tiba ia baru tiba di rumahnya tanpa membawa kayu sedikitpun.
Hari terakhir lomba, si Hijau memasak dengan riang. Sahabat-sahabtnya hadir memberikan semangat. Sorak-sorai sahabat-sahabatnya membuat ia tak mau melewatkan detik-demi detik dengan kemalasan.
Sementara si Biru memasak tanpa diberikan semangat oleh orang-orang terdekatnya. tubuh yang semakin lelah pun kian terasa berat. Ia hanya berhasil memasak untuk 950 porsi karena pada saat memasak untuk 50 porsi lagi, kayu bakarnya habis.
Nasib si Hijau berbeda. ia berhasil memasak untuk 1000 porsi. Bahkan kayu bakarnya masih tersisa. Si Hijau pun menjadi pemenang.
Si Biru memang sangat pintar. Setiap harinya selalu dapat mengumpulkan ranting-ranting kering (persediaan untuk bahan bakar memasak) dalam jumlah yang lebih banyak dari si Hijau. Si Hijau selalu mendapat ranting yang lebih sedikit dari pada si Biru, karena setiap dia mengambil ranting dan bertemu dengan pohon baru selalu menyelidiki secara detil pohon tersebut, selain itu ia lebih senang berjalan ke wilayah baru yang jauh sehingga waktunya lebih banyak dihabiskan di jalan dan mengobrol dengan orang yang ditemuinya dibandingkan dengan mengumpulkan ranting. Yang terpenting bagi si Biru adalah banyaknya ranting yang dikumpulkan sedangkan bagi si Hijau ranting yang banyak juga sangat penting tapi tidak menargetkan dalam jumlah banyak (hanya sebatas persediaan hari ini dan besok) yang terpenting adalah pengalaman-pengalaman barunya yang tidak hanya sekedar tentang ranting.
Suatu ketika ada perlombaan memasak. Dalam perlombaan ini ditetapkan ketentuan bahwa yang menjadi pemenang adalah yang dapat memasak untuk porsi 1000 orang. Si Biru tersenyum lega karena persediaan kayu bakarnya lebih banyak dibandingkan dengan persediaan si Hijau. Si Biru optimis bahwa dialah yang akan memenangkan perlombaan ini.
"Ah...aku yakin aku yang akan menang, waktu perlombaan ini hanya dua hari. Mana sempat si Hijau mengumpulkan kayu bakar dalam jumlah yang banyak sementara ia pun harus memasak. Sedangkan aku tinggal memanfaatkan satu hari ini untuk mencari kayu bakar tambahan dan besoknya aku gunakan untuk memasak," pikir si Biru.
Hari itu si Hijau langsung pergi berkelana ke tempat-tempat kenalannya. Ia meminta bantuan kepada teman-teman yang pernah kenal untuk mencarikan kayu bakar. Semua kenalannya bersemangat membantu. Malam harinya kayu-kayu berdatangan dan melimpah ruah dibandingkan punyanya si Biru.
Sementara si Biru hanya bisa menambah sedikit kayunya karena ditempat biasa ia mencari kayu sudah tidak ada lagi kayu. Saat melihat persediaan si Biru melimpah, ia pun berambisi untuk mendapatkan lebih. Malam itu, ia pun berangkat menjelajah hutan untuk mencari kayu, termasuk ke tempat yang belum ia tempuh. Alhasil ia nyasar, karena ia tak tahu medan dan dalam keadaan gelap. Suaat subuh tiba ia baru tiba di rumahnya tanpa membawa kayu sedikitpun.
Hari terakhir lomba, si Hijau memasak dengan riang. Sahabat-sahabtnya hadir memberikan semangat. Sorak-sorai sahabat-sahabatnya membuat ia tak mau melewatkan detik-demi detik dengan kemalasan.
Sementara si Biru memasak tanpa diberikan semangat oleh orang-orang terdekatnya. tubuh yang semakin lelah pun kian terasa berat. Ia hanya berhasil memasak untuk 950 porsi karena pada saat memasak untuk 50 porsi lagi, kayu bakarnya habis.
Nasib si Hijau berbeda. ia berhasil memasak untuk 1000 porsi. Bahkan kayu bakarnya masih tersisa. Si Hijau pun menjadi pemenang.
SAATNYA FAIR DALAM UJIAN
Kita masih saja sering lupa bahwa bukan hanya sekedar gelar, nilai ataupun prestise,
yang harus kita utamakan untuk dikejar kala berada dalam dunia pendidikan. Apalah arti pendidikan ini jika hanya sebatas angka dalam lembar penilaian, sebatas gelar yang memperpanjang nama kita ataupun sebatas tatap hormat yang tersaji untuk diri kita? Selaku umat islam kita pun pernah mendengar bahwa orang yang berilmu dan taqwa akan mendapat derajat yang tinggi di sisi Allah SWT. Tentunya itulah posisi yang tepat bagi mereka yang mengamalkan ilmu untuk kemaslahatan umat dan lingkungannya disertai dengan mengharapkan ridha Allah SWT dan taqwa pada-Nya.
Menjadi sebuah keharusan untuk kita mencari ilmu dengan cara yang benar. Tapi entah kenapa kita seolah selalu lupa dan menghalalkan segala cara. Demi gelar, nilai dan prestise, kita kerap rela mencontek, mencuri waktu diskusi dengan teman, padahal ujian tengah dilaksanakan padahal dalam peraturan jelas sekali larangan untuk open book dan bekerja sama. Bila demikian keadaannya, pantaskah kita dengan gelar, nilai dan prestise yang didapatkan.
Semoga kita makin sadar bahwa perbuatan tersebut merugikan diri kita dan perbuatan persaingan tidak fair.
SELAMAT UAS UNTUK MAHASISWA STIA BANTEN. AYO GALAKAN GERAKAN ANTI MELANGGAR TATA TERTIB UAS DI STA BANTEN.
yang harus kita utamakan untuk dikejar kala berada dalam dunia pendidikan. Apalah arti pendidikan ini jika hanya sebatas angka dalam lembar penilaian, sebatas gelar yang memperpanjang nama kita ataupun sebatas tatap hormat yang tersaji untuk diri kita? Selaku umat islam kita pun pernah mendengar bahwa orang yang berilmu dan taqwa akan mendapat derajat yang tinggi di sisi Allah SWT. Tentunya itulah posisi yang tepat bagi mereka yang mengamalkan ilmu untuk kemaslahatan umat dan lingkungannya disertai dengan mengharapkan ridha Allah SWT dan taqwa pada-Nya.
Menjadi sebuah keharusan untuk kita mencari ilmu dengan cara yang benar. Tapi entah kenapa kita seolah selalu lupa dan menghalalkan segala cara. Demi gelar, nilai dan prestise, kita kerap rela mencontek, mencuri waktu diskusi dengan teman, padahal ujian tengah dilaksanakan padahal dalam peraturan jelas sekali larangan untuk open book dan bekerja sama. Bila demikian keadaannya, pantaskah kita dengan gelar, nilai dan prestise yang didapatkan.
Semoga kita makin sadar bahwa perbuatan tersebut merugikan diri kita dan perbuatan persaingan tidak fair.
SELAMAT UAS UNTUK MAHASISWA STIA BANTEN. AYO GALAKAN GERAKAN ANTI MELANGGAR TATA TERTIB UAS DI STA BANTEN.
Langganan:
Komentar (Atom)










