Minggu, 17 Oktober 2010

YANG TERTUNDA

Masih dengan sembarang rasa aku menikmati kehadirannya. Mungkin nyaman itu memang ada saat berjumpa dengan wajahnya. Atau bisa jadi sebuah kepura-puraan telah menjadi topeng yang menemaniku melakoni hubungan percintaan ini.

Aku tak faham benar dengan perasaanku pada lelaki yang kusebut kekasih itu. Kadang perjumpaan dengannya menciptakan rangkaian bunga yang bermekaran dalam taman hatiku. Tapi tak jarang aku merasakan mual saat mendengarkan ucapannya yang kian hari kian terasa menjijikan.

Dengan tatapan kosong kusambut kehadirannya di senja yang mulai merangkak mejemput malam. Setangkai mawar merah telah ia persiapkan untuk menyegarkan kuncup rasa yang tersimpan di ruang hatiku. Sedikitnya senyumku terkembang, ada rasa indah yang menari-nari mengelilingiku. Tapi rupanya mekarnya mawar merah itu tak berlangsung lama. Ucapannya kian membuatku malas untuk berjumpa. Bau bangkai keluar dari mulutnya dengan aroma yang sangat menyengat.

”Maafkan mas...., dindaku sayang!” dia menatapku tanpa melepaskan genggaman tangannya, ”Mas sayang kamu, dinda! Tapi tolong mengertilah....Mas belum bisa menikah denganmu!”

”Alasannya?” sisi jiwaku sudah tak mampu lagi menghadirkan kesabaran, mataku menatapnya tajam.

Laki-laki yang kusebut kekasih itu mempresentasikan argumentnya tentang ketidaksiapannya memperistri diriku. Berkali-kali ia meyakinkan hatiku bahwa ia masih ingin menjalani hubungan ini dengan catatan tidak dalam bingkai rumah tangga. Setumpuk janji ia lontarkan untuk menjadikanku ibu dari anak-anaknya di beberapa tahun mendatang. Gambaran pesta pernikahan ala kerajaan pun ia deskripsikan dengan spesifik saat membujukku untuk memperlambat waktu pernikahan kami. Aku hanya bisa mendesah. Sementara ruang telingaku terasa memanas hingga diriku tak lagi mampu mendengar suara-suara.

Kamis, 14 Oktober 2010

PEMILUKADA TERULANG, JALAN MASIH BERLUBANG DAN BERKUBANG LUMPUR

Dua puluh tiga tahun yang lalu aku dilahirkan di sebuah peloksok desa di wilayah Pandeglang. Desa Pasirgadung Kecamatan Patia Kabupaten Pandeglang menjadi tanah kelahiranku. Bahkan tidak hanya itu, aku melewati masa kanak-kanak, remaja dan beranjak dewasa di sana. 

Sungguh...dalam hatiku yang terdalam ada rasa cinta yang besar untuk kampung halamanku itu. Meski kini di usia 23 tahun aku harus merelakan diri untuk tidak lagi menjadi penghuninya (bahkan tak tagi tercatat sebagai warganya), rindu dan cintaku masih terbingkai indah untuk kampungku. Bahkan kota Metropolitan Jakarta belum bisa mengikis cintaku pada desa di selatan Pandeglang tersebut. 

Namun sungguh rasa miris menghampiri hatiku. Luka yang berasal dari kecewa ini masih membekas. Aku merasakan prihatin yang menggila pada kampungku. Bayangkan...sampai detik ini keadaan jalan di desaku itu masih dalam keadaan sangat rusak. Bahkan saat musim penghujan tiba kendaraan berupa mobil tak bisa mengakses kampung halamanku. Motor pun harus mengeluarkan tenaga ekstra untuk bisa difungsikan.
 
Berulang kali berharap agar jalan mengalami perbaikan. Setiap tahun dihibur bahwa tahun mendatang akan ada pengaspalan. Setiap Pemilu dijanjikan akan ada bantuan dana untuk jalan. Setiap saat penduduk kampung desaku diliputi impian untuk memiliki akses jalan yang lebih baik.
 
Tapi begitulah, mimpi rakyat kecil hanya sebatas mimpi. Realisasi seakan tak dikenal dan tak mau menyapa. Harapan perbaikan jalan pupus seiring dengan enggannya pemimpin untuk mampir dan membuka mata atas keadaan jalan. Bahkan kata-kata pengobat hati yang mengabarkan bahwa tahun depan akan ada pengaspalan selalu diucapkan pada setiap tahun tanpa pelaksanaan. Janji-janji pemilu menguap dengan terlenanya si penjanji di atas empuknya kursi jabatan. 

Kemarin,Minggu (3/10) untuk kesekian kalinya PEMILU dilaksanakan. Kali ini PEMILUKADA yang bertujuan untuk memilih Pemimpin Pandeglang pun digelar. Warga Pandeglang pun rela meluangkan waktu untuk memilih Pemimpin yang baru, termasuk warga di kampungku. 

Aku yakin mereka rela meluangkan waktu demi harapan baru. Perbaikan Pandeglang menjadi tujuan. Bahkan bagi warga di kampungku jelas-jelas harapan itu terlontar, "Gampang lah yang muluk-muluk mah, yang penting jalan enak".
Jika warga kampungku saja rela meluangkan waktu agar punya pemimpin baru yang katanya mau memperbaiki Pandeglang, apakah pemimpin Pandeglang yang baru nanti mau meluangkan waktu untuk memikirkan jalan di kampungku lalu menyediakan anggaran untuk memperbaikinya???
Jika tidak, harus diulang berapa kali PEMILUKADA-nya agar JALAN TIDAK BERLUBANG dan BERKUBANG LUMPUR???  



 

VESPA OH VESPA

Tiba-tiba saja aku teringat kendaraan roda dua bernama Vespa. Gara-garanya sieh aku mencoba mengenang parjalanan ke Puncak di 26 September 2010 lalu. Yah...saat di perjalanan mataku menagkap beberapa Vespa yang di modif. Glekk...., tentu saja membuat mataku melotot memandanginya --sebagai bentuk kekaguman.

Memang sejak menikah dengan My'Lovely Rumaedi Kusam aku mulai ikut-ikutan membaca tabloid motor. Maksudnya sieh agar bisa nemu tema pembicaraan yang oke with My'Lovely Rumaedi Kusam. Tapi tetep gak bisa dipaksakan, daku cuma tertarik pada lembar yang membahas kegiatan balapan yang diikuti "The Doctor" dan kawan-kawan. Selebihnya mataku hanya menikmati lembar-lembar gambar yang memuat modifikasi motor (Sampai-sampai suka mikir pengen punya motor yang dimodif).

My'Lovely Rumaedi Kusam tahu bahwa daku senang banget pada motor yang dimodifikasi. Alhasil kalo ada motor hasil modifikasi di wilayah yang dekat dengan posisi kami berada, dia suka menginformasikannya padaku (sekedar untuk menikmatinya lewat mata). Tapi entahlah sampai sekarang yang sering muncul di pelupuk mataku hanya modifikasi Vespa. Kalo motor yang lain-lain masih jarang, 1:5 lah dengan Vespa.

Kalo mulai ngomongin Vespa ada seorang teman yang selalu nempel dalam ingatanku. Hmmm....namanya Rahman Hidayat (bisa lihat profilnya di http://www.facebook.com/home.php?#!/profile.php?id=100000149646052). Rahman ini suka banget sama yang namanya Vespa, sampai-sampai nama facebooknya aja "Love Banget Scooterz --yang merujuk pada Vespa miliknya). Sering banget liat dia bawa Vespa, ke kampus pun bawa Vespa --hanya dia yang ke kampusku bawa Vespa.

Pengen banget sieh nyobain Vespa dia. Cuma sayang seribu sayang...daku ga bisa mengendarai yang namanya kendaraan roda dua --selain sepeda. Dibonceng sama dia??? Ugh....kayaknya masih enggan....! Pengennya sama suami sendiri, hihihihi.....!

Seperti biasa jika ada yang unik aku suka gatal untuk mendokumentasikannya. Hehehhehe....berbekal kamera Nokia milik Ariandy Guspermana, akupun mendokumentasikan moment nongkrongnya Rahman di kampus ditemani kawan-kawan dan Vespanya.

 (Dari kiri ke kanan, Rahman Hidayat-Fariz-Ariandy Guspermana : Sedang menikmati waktu luang usai kuliah di depan Kampus STIA Banten).


(Ngobrol ma teman emang asyik...kayaknya akan jadi kenangan yang indah)


(Baru nyadar kalo sedang jadi objek foto, so liat kamera dah....!) 

 (Gak seru kalo ngobrol tapi perut karokean, so....Mie Ayam yang biasa mangkal di depan kampus kayaknya jadi inceran)

(Ini sieh bukan diriku yang mengambil fotonya, entah siapa...tapi yang jelas ada di handphone milik Ariandy dan bisa dilihat di http://www.facebook.com/#!/photo.php?fbid=1291403824691&set=a.1291401664637.33323.1818140943)


Sejauh penglihatanku, Rahman --atau yang biasa disebut Martin oleh teman-teman seangkatanku ini-- sangat cinta sama benda yang satu itu. Yang namanya dah hobi ya pasti akan menjadi sesuatu yang indah dan takkan tergantikan. Sedikitnya dengan seringnya melihat Vespa aku pun mulai menyukainya (PENGEN PUNYA TAPI MENURUT INFO HARGANYA MAHAL....!).

Begitulah ada hal unik yang kerap dihadirkan oleh teman-teman sehingga menimbulkan sensasi suka dipikiran dan hatiku. Dan rupanya itulah yang menjadi benih kerinduan. Hal yang dahulu luput dari perhatian atau hanya sesekali saja diperhatikan pun menjadi hal besar yang ingin dipublikasikan. 

Dan kini Vespa Biru milik Rahman yang tak pernah kuelus ini pun menjadi inspirasi penghias lembar-lembar catatan. Vespa yang dahulu sebatas kujadikan obyek foto dan tersimpan rapih dalam file tanpa dibuka kembali pun menjadi sesuatu yang ingin kuulas dalam blog. Vespa yang dahulu sempat kuanggap jadul membuahkan benih rindu pada teman-teman yang kerap membuatku tersenyum.

Rabu, 13 Oktober 2010

SKETSA WAJAH DI DUKA KECELAKAAN IIS KHOLISOH

Hari ini kembali mengobrak-abrik isi blog. Masih berambisi untuk memiliki blog yang oke punya (baik secara tampilan luar, maupun secara kualitas/isi tulisan). Maklumlah punya impian untuk jadi penulis jadi menghibur hati saja (biarpun gak jadi penulis terkenal lewat buku-buku yang dipasarkan, daku akan tetap menulis lewat blog --anggap saja semua orang membacanya). 

Setelah kelar dengan merubah tampilan blog maka saatnya untuk memikirkan isi tulisan yag akan di posting (Kan gak lucu kalo punya blog tapi ga pernah di-update tulisannya). Kebisaanku kalo lagi mentok gini..., ya buka-buka file yang ada di hp mini dengan harapan ada arsip tulisan yang oke untuk di posting ke layar blogku. Dan....wuidih....akhirnya sebuah folder yang berjudul "SKETSA WAJAH" mengingatkanku akan sesuatu.

Folder SKETSA WAJAH berisi dua file hasil bidikanku.
Untuk menyalurkan hasrat menjadi wartawan (padahal kuliah di Administrasi Bisnis) aku memang suka gatal kalo liat kamera (meski cuma kamera handphone), bawaannya pengen memotret mulu. Tapi kasus pada diriku, motretnya harus yang ada kaitannya dengan peristiwa-peristiwa tertentu. Aku suka males kalo sengaja motret orang yang gayanya dibuat-buat, soalnya daku malah ikut tergoda untuk jadi model fotonya (*bakat narsis mode:on*).

Di bidikanku yang sketsa wajah ini ada tiga orang teman yang jadi korban. Tentu saja mereka kusebut korban oleh sebab tak seorangpun dari mereka menyadari bahwa diri mereka tengah jadi korban bidikanku. Entahlah aku tak tahu pasti mengapa mereka tak menyadarinya. Mungkin karena mereka bersedih atas musibah yang menimpa teman kami atau mereka memang lagi bosen nunggu jadwal besuk. Yang jelas mereka tak tahu akan kejahilanku sampai pada akhirnya aku menunjukkan hasilnya.

Foto itu memang dibidik saat adanya musibah yang menimpa teman sekelas di bangku kuliah. Tak tahu pasti waktu (yang tepat) kejadiannya. Yang jelas...hari Rabu di Januari 2010 itulah kami berkumpul di RS Sari Asih Serang untuk membesuk teman sekelas kami. Saat itu Iis Kholisah teman seangkatan di Administrasi Bisnis STIA Banten mengalami kecelakaan saat hendak berangkat kuliah pada hari Selasa sebelumnya. Menurut dokter....ia mengalami patah tulang di bagian dada dan parahnya ini menutupi saluran nafasnya, hingga harus dilakukan operasi untuk mengakali/membuat saluran nafas.

Tentu saja sebagai teman kami sangat prihatin. Bahkan tak lagi memperdulikan jadwal kuliah. Kami nego ke dosen meminta diberikan waktu untuk menjenguk dan meminta agar jadwal di Rabu pukul 15.00 WIB itu di alihkan ke hari lain. Kami panik...karena keluarga teman kami mengabarkan bahwa pihak RS Sari Asih Serang sudah tidak sanggup untuk menangani dan kemungkinan akan dipindah ke Jakarta. Untung saja dosen kami care.

Inilah gambaran wajah teman-temanku saat ada di RS Sari Asih Serang kala tengah menunggu jam besuk. Wajah-wajah yang harus bersabar menunggu waktu besuk. Wajah-wajah yang miris melihat keadaan teman yang terbaring sakit (yang hanya bisa dilihat melalui jendela kaca tanpa bisa menyentuh terlebih mendekap). Wajah-wajah yang hanya cukup puas mendengar penjelasaan kondisi teman melalui cerita keluarganya tanpa bisa merasakan detak nadi dan hembusan nafasnya.





Semoga saat ini kita masih merasakan bawha Alm. Iis Kholisah adalah bagian dari kita. Kenangan bersamanya adalah hal manis yang terus dikenang. Tentunya ada do'a-do'a yang terucap untuknya.

Rabu, 06 Oktober 2010

AWAL PERKENALAN DENGAN NASI KUCING

Saat pertama kali mendengar makanan bernama “NASI KUCING” ada rasa jijik yang timbul di benak saya. Pada saat itu saya membayangkan nasi yang sedang dilahap seekor kucing. Tapi imajinasi saya tidak terlalu wah…., tidak sampai membayangkan kucing kecil item yang kurus dengan mata penuh belek, sebatas terbayang kucing yang biasa ada di rumah orang tua saya (yang lumayan gemuk dengan mata jernih dan bulu belang putih-orange). Walaupun begitu tetap saja saya jijik jika membayang manusia memakan nasi bekas kucing ataupun memakan nasi yang hanya layak dimakan kucing.

Tapi pada akhirnya rasa penasaran itu muncul juga. Terlebih teman saya meng-update status tentang asyiknya makan nasi kucing. Saya yang saat itu terkena virus doyan berburu kuliner pun terpancing untuk mencicipinya.

Alhasil saat berkunjung ke rumah saudara, yang ada di wilayah sekitar Carrefour Cikokol, saya niatkan untuk berburu Nasi Kucing. Saat itu tak tahu harus mencari Nasi Kucing dimana. Saudara saya juga tak tahu akan Nasi Kucing, bahkan baru tahu dari saya tentang nasi kucing. Memang sebelumnya saya pernah lihat ada Angkringan Nasi Kucing, tapi itu di wilayah Pasar Kemis yang berarti jauh sekali dari Cikokol. Tapi ternyata keberuntungan masih berpihak pada saya, saat saya berada di depan Dunkin' Donuts Cikokol, mata saya menangkap  Angkringan Nasi Kucing. Maka saya pun memantapkan hati untuk mampir.

Awalnya aneh juga dengan tampilan Angkringan Nasi Kucing tersebut. Saya hanya terbelalak mendapati bungkusan daun pisang berisi nasi seupil yang dilengkapi seekor teri kecil dan sambal (Saya tertawa dalam hati, mentang-mentang nasi kucing isinya juga kaya mau ngasih makan kucing). Untungnya di angkringan tersebut ada lauk yang lain pula (tempe, tahu, ceker ayam, kepala ayam, gorengan, sate telur puyuh, sate ampela dan lainnya). Sebagai minumannya ada lumayan banyak variasi juga rupanya....(ada teh jahe, susu jahe, kopi dan teh manis).

Rupanya rasanya tak sejijik yang saya bayangkan. Wow...., justru uenak tenan....! Nasi, teri dan sambalnya menjadi satu kesatuan yang mak nyos. Walaupun seuprit tetap membuat saya kenyang...(untuk porsi saya itu dah cukup karena ternyata kecil-kecil nasinya berisi, kalau yang merasa kurang tidak ada salalahnya nambah). Terlebih aroma lauknya yang dibakar kian menambah asyiknya makan. Saat itu saya tak tahu jika meminum jahe susu akan membuat kenikmatan semakin terasa lengkap. Saya malah hanya memilih minum air jahenya saja.

Kejutan datang lagi di akhir acara makan. Saat menanyakan harga makanan dan minuman yang saya makan, hati saya kaget bercampur gembira. Ternyata sebungkus nasi kucing, satu tahu, dua gorengan, satu ceker dan segelas jahe tak begitu menyita uang. Saya lupa antara Rp. 7.000,00 atau Rp. 8000,00 uang yang harus saya bayarkan, tapi yang jelas satu dari dua pilihan tersebut.

Yang jelas ini jajanan murah bukan? Rasanya ini patut dicoba sebagai referensi wisata kuliner. Bagi teman-teman yang belum mencoba silahkan untuk hunting. Jujur saya pun ketagihan.

BUKU GILALOVA 2

Setelah sukses dengan kisah cinta remaja di GILALOVA 1, kembali Gong Publishing akan menerbitkan Gilalova 2. Antologi cerpen bersama 27 penulis Banten ini memuat 25 kisah cinta khas remaja. Dengan kisah-kisah yang di-setting wilayah Banten, setidaknya pembaca akan tahu beberapa wilayah yang ada di Banten. Dan spesialnya Gilalova dua bertema "Cinta Takkan Kemana-mana".

Kali ini diriku ikut berperan serta dalam proses penerbitannya. Dengan menyumbangkan satu cerpen bergenre percintaan remaja dengan judul “IMPIAN TERBANG KUPU-KUPU PATAH SAYAP”. Aku ikut meramaikan lembar demi lembar buku antologi cerpen ini dengan nama pena Zara Fauziah Disyafa.

Cerpenku mengisahkan tentang cinta bertepuk tangan seorang mahasiswi kepada aktivis kampusnya. Ironisnya cintanya ini telah digembar-gemborkan oleh wanita tersebut dan kerap memenuhi dinding facebook. Tentu saja hal ini menuai cibiran dari teman-temannya (baik teman-teman di dunia maya maupun di dunia nyata bernama kampus). Akhirnya ia merasa telah mempermalukan dirinya. Di saat menghadapi hal berat tersebut ia memutuskan untuk pergi dari kampus dan tidak akan kembali lagi. Bagaimana kelanjutan kisahnya? Apakah ia rela mengorbankan kuliahnya demi mempertahankan rasa malu yang menggerogoti? Apakah lelaki itu berubah pikiran lalu menyambut cintanya?


Tunggu kisahnya di GILALOVA 2 yang akan launching beberapa waktu mendatang. Bila pesan sekarang melaui penulisnya, dalam hal ini saya maka teman-teman bisa beli dengan harga lebih miring dibandinkan dari harga dipasaran. Nanti ordernya bisa via FB Zara Fauziah Disyafa atau via e-mail ekasofyafauziah@yahoo.com. Bisa pesan sekarang.