Sore ini, aku lumayan bingung. Sementara digenggamanku sudah ada alat tes kehamilan. Aku bingung apakah akan melakukan tes itu sore ini juga, atau ditunda esok pagi (karena seorang teman pernah berkata bahwa tes kehamilan lebih bagus jika dilakukan pada pagi hari). Tapi sungguh aku sudah tak sabar untuk melakukannya, ingin segera mengetahui status rahimku.
Selain bingung memilih waktu yang tepat untuk tes, akupun disergap rasa harap-harap cemas. Ada rasa takut yang menyelubungi hatiku. Aku takut jikatak mampu memberikan kabar terbaik untuk suamiku. Bagaimanapun aku mulai menangkap sikap suamiku yang sudah merindukan keturunan.
Kuperhatikan suamiku yang tengah sibuk mencuci motor. Ia mempertanyakan sikapku yang belum juga melakukan tes tersebut. Jujur kuakui padanya bahwa diriku tengah dihantui rasa cemas, cemas jika hasilnya mengecewakan. Aku brsyukur...kini ditengah rasa harap-harap cemasku, suamiku mampu meyakinkanku bahwa ia dapat menerima apapun hasil tesnya nanti.
Ahirnya kuputuskan untuk melakukan tes sore ini juga. Aku tidak siap jika dilanda rasa penasaran hingga esok pagi. Positif atau negatif bisa kuketahui secepatnya jika kulakukan tes sore ini.
Beberapa menit lamanya aku berjibaku dengan alat tes kehamilan tersebut. Mataku dengan seksama memperhatikan garis merah yang muncul. Dan Alhamdulillahirabbil'alamin....akhirnya dua garis merah muncul juga. Hampir saja aku teriak dan meloncat di kamar mandi.
Kudatangi suamiku yang tengah sibuk mengisi ember dengan air guna keperluan mencuci motor. Wajah dingin kutunjukkan agar ia penasaran dengan hasilnya. Sementara hasil tes masih ku pegang erat dibalik badanku.
"Gimana hasilnya?" ia tersenyum.
"Lihat aja ya!" kutunjukkan hasilnya.
Ada segurat binar dimatanya, "bener nieh?" tanyanya.
Aku hanya mengangguk.
"Alhamdulillahirabbil'Alamin...!" ucapnya.
Suamiku yang memang cuek itu kembali melanjutkan aktivitas mencuci motornya. Keningku agak mengkerut melihat sikapnya. Kuabaikan saja dia, kemudian kusibukkan diriku dengan memotret hasil tes tersebut dengan kamera ponselku.
Usai mencuci motor, suamiku menghampiri. Ia memeluk tubuhku. Mengecup keningku dan mengelus perutku.
"Makasih ya, Mi...! Jaga dedenya baik-baik!"
Kemudian ia tampak sibuk mengiris sms ke adik-adiknya untuk mengabarkan kehamilan ini pada orang tua dan keluarga.
CATATAN ZARA
"Menjadi pecundang bukanlah takdir hidup manusia, melainkan pilihan oleh sebab tiada tindakan untuk melakukan perubahan" "PERBAIKAN DIRI UNTUK PERBAIKAN UMAT"
Minggu, 21 November 2010
Minggu, 17 Oktober 2010
YANG TERTUNDA
Masih dengan sembarang rasa aku menikmati kehadirannya. Mungkin nyaman itu memang ada saat berjumpa dengan wajahnya. Atau bisa jadi sebuah kepura-puraan telah menjadi topeng yang menemaniku melakoni hubungan percintaan ini.
Aku tak faham benar dengan perasaanku pada lelaki yang kusebut kekasih itu. Kadang perjumpaan dengannya menciptakan rangkaian bunga yang bermekaran dalam taman hatiku. Tapi tak jarang aku merasakan mual saat mendengarkan ucapannya yang kian hari kian terasa menjijikan.
Dengan tatapan kosong kusambut kehadirannya di senja yang mulai merangkak mejemput malam. Setangkai mawar merah telah ia persiapkan untuk menyegarkan kuncup rasa yang tersimpan di ruang hatiku. Sedikitnya senyumku terkembang, ada rasa indah yang menari-nari mengelilingiku. Tapi rupanya mekarnya mawar merah itu tak berlangsung lama. Ucapannya kian membuatku malas untuk berjumpa. Bau bangkai keluar dari mulutnya dengan aroma yang sangat menyengat.
”Maafkan mas...., dindaku sayang!” dia menatapku tanpa melepaskan genggaman tangannya, ”Mas sayang kamu, dinda! Tapi tolong mengertilah....Mas belum bisa menikah denganmu!”
”Alasannya?” sisi jiwaku sudah tak mampu lagi menghadirkan kesabaran, mataku menatapnya tajam.
Laki-laki yang kusebut kekasih itu mempresentasikan argumentnya tentang ketidaksiapannya memperistri diriku. Berkali-kali ia meyakinkan hatiku bahwa ia masih ingin menjalani hubungan ini dengan catatan tidak dalam bingkai rumah tangga. Setumpuk janji ia lontarkan untuk menjadikanku ibu dari anak-anaknya di beberapa tahun mendatang. Gambaran pesta pernikahan ala kerajaan pun ia deskripsikan dengan spesifik saat membujukku untuk memperlambat waktu pernikahan kami. Aku hanya bisa mendesah. Sementara ruang telingaku terasa memanas hingga diriku tak lagi mampu mendengar suara-suara.
Aku tak faham benar dengan perasaanku pada lelaki yang kusebut kekasih itu. Kadang perjumpaan dengannya menciptakan rangkaian bunga yang bermekaran dalam taman hatiku. Tapi tak jarang aku merasakan mual saat mendengarkan ucapannya yang kian hari kian terasa menjijikan.
Dengan tatapan kosong kusambut kehadirannya di senja yang mulai merangkak mejemput malam. Setangkai mawar merah telah ia persiapkan untuk menyegarkan kuncup rasa yang tersimpan di ruang hatiku. Sedikitnya senyumku terkembang, ada rasa indah yang menari-nari mengelilingiku. Tapi rupanya mekarnya mawar merah itu tak berlangsung lama. Ucapannya kian membuatku malas untuk berjumpa. Bau bangkai keluar dari mulutnya dengan aroma yang sangat menyengat.
”Maafkan mas...., dindaku sayang!” dia menatapku tanpa melepaskan genggaman tangannya, ”Mas sayang kamu, dinda! Tapi tolong mengertilah....Mas belum bisa menikah denganmu!”
”Alasannya?” sisi jiwaku sudah tak mampu lagi menghadirkan kesabaran, mataku menatapnya tajam.
Laki-laki yang kusebut kekasih itu mempresentasikan argumentnya tentang ketidaksiapannya memperistri diriku. Berkali-kali ia meyakinkan hatiku bahwa ia masih ingin menjalani hubungan ini dengan catatan tidak dalam bingkai rumah tangga. Setumpuk janji ia lontarkan untuk menjadikanku ibu dari anak-anaknya di beberapa tahun mendatang. Gambaran pesta pernikahan ala kerajaan pun ia deskripsikan dengan spesifik saat membujukku untuk memperlambat waktu pernikahan kami. Aku hanya bisa mendesah. Sementara ruang telingaku terasa memanas hingga diriku tak lagi mampu mendengar suara-suara.
Langganan:
Komentar (Atom)