Masih dengan sembarang rasa aku menikmati kehadirannya. Mungkin nyaman itu memang ada saat berjumpa dengan wajahnya. Atau bisa jadi sebuah kepura-puraan telah menjadi topeng yang menemaniku melakoni hubungan percintaan ini.
Aku tak faham benar dengan perasaanku pada lelaki yang kusebut kekasih itu. Kadang perjumpaan dengannya menciptakan rangkaian bunga yang bermekaran dalam taman hatiku. Tapi tak jarang aku merasakan mual saat mendengarkan ucapannya yang kian hari kian terasa menjijikan.
Dengan tatapan kosong kusambut kehadirannya di senja yang mulai merangkak mejemput malam. Setangkai mawar merah telah ia persiapkan untuk menyegarkan kuncup rasa yang tersimpan di ruang hatiku. Sedikitnya senyumku terkembang, ada rasa indah yang menari-nari mengelilingiku. Tapi rupanya mekarnya mawar merah itu tak berlangsung lama. Ucapannya kian membuatku malas untuk berjumpa. Bau bangkai keluar dari mulutnya dengan aroma yang sangat menyengat.
”Maafkan mas...., dindaku sayang!” dia menatapku tanpa melepaskan genggaman tangannya, ”Mas sayang kamu, dinda! Tapi tolong mengertilah....Mas belum bisa menikah denganmu!”
”Alasannya?” sisi jiwaku sudah tak mampu lagi menghadirkan kesabaran, mataku menatapnya tajam.
Laki-laki yang kusebut kekasih itu mempresentasikan argumentnya tentang ketidaksiapannya memperistri diriku. Berkali-kali ia meyakinkan hatiku bahwa ia masih ingin menjalani hubungan ini dengan catatan tidak dalam bingkai rumah tangga. Setumpuk janji ia lontarkan untuk menjadikanku ibu dari anak-anaknya di beberapa tahun mendatang. Gambaran pesta pernikahan ala kerajaan pun ia deskripsikan dengan spesifik saat membujukku untuk memperlambat waktu pernikahan kami. Aku hanya bisa mendesah. Sementara ruang telingaku terasa memanas hingga diriku tak lagi mampu mendengar suara-suara.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar