Selasa, 28 September 2010

MENGENANG H-1 AKAD NIKAH

Hampir 3 bulan aku menjalani pernikahan ini. Saat menjelang hari pernikahan ada banyak hal yang membuatku tersenyum, haru dan bahagia. inilah catatan harianku tempo hari.....


Rabu, 07 Juli 2010

Seperti sebuah mimpi, dalam hitungan jam ke depan aku akan melepas masa lajangku. Semua kebutuhan akad nikah telah dipersiapkan. Pelaminan, penghulu beserta seperangkat surat nikah, hidangan untuk para tamu, bahkan calon suami beserta keluarganya telah tiba dan kini menginap di rumah nenek.

Aku ingin acara esok berlangsung dengan baik dan lancar. Pada akhirnya aku ikut nimbrung dan agak cerewet mengomentari dekorasi dan tata letak tenda serta pelaminan. Bahkan aku rela menjemput keluarga calon suami ke tepi jalan raya, oleh sebab mereka belum hapal arah jalan menuju ke rumah. Awalnya ingin menyuruh orang lain tapi apalah daya semua orang tengah sibuk. Alhasil keluarga calon suamiku kaget karena aku yang menjemput.

Dalam kondisi keluargaku tidak terlalu kental memegang adat. Acara pingit tidak diterapkan pada calon mempelai. Jadi sah-sah saja jika aku menjemput keluarga calon suamiku. Dan rupanya ini cukup membuat kaget keluarga calon suami yang berasal dari Jawa.

Bukan maksud ingin segera bertemu dengan calon suami. Tapi begitulah keadaan memaksaku untuk melakukan itu, jika tidak bisa-bisa calon suami beserta keluarganya tak sampai ke rumah, yang artinya pernikahanku akan batal (hmmmm.....itu menyedihkan). Ini hanya sebuah upaya untuk membuat mereka sampai ke kampungku. Meski pada akhirnya, tetap saja satu mobil yang ada di paling belakang nyasar juga oleh sebab ketinggalan jejak kami yang di depan.

Sejujurnya H-1 menuju akad nikah cukup membuatku deg-degan. Bagaimana tidak, hitungan jam menuju acara pernikahan, hujan terus mengguyur. Sejak kemarin (saat mulai pemasangan tenda), hujan dan petir terus menyapa. Dan kini saat keluarga calon suami mulai tiba di kampungku (guna menghadiri acara akad esok pagi), hujan kembali mengguyur.

Terpaksa mobil yang membawa rombongan suami tidak dapat dioprasikan sampai tujuan (tempat mereka menginap). Mestinya mobil itu harus sampai di rumah nenekku (yang dari umi), tepat di pinggir Mesjid At-Taqwa Pasirgadung (tempat akad besok). Tapi berhubung jalan yang tidak memungkinkan, maka mobil hanya sampai di rumah nenekku (yang dari almarhum bapak), di Kampung Pasir Peutey (dekat ke kuburan almarhum bapak).

Alhasil rombongan suami pun dijemput oleh keluargaku. Berbagai bingkisan yang telah disiapkan keluarga calon suami pun diangkut dengan berjalan kaki. Akhirnya keluarga calon suami harus berjuang dengan berjalan kaki di tanah licin berlumpur untuk sampai di rumah nenekku (yang dari umi). Tetes-tetes gerimis pun mengiringi langkah mereka.

Tidak ada komentar: