Alkisah di sebuah dusun nan jauh di sana. Hiduplah dua orang gadis, sebut saja si Hijau dan si Biru. Si Hijau adalah seorang gadis yang supel, fleksibel, berpendirian keras dengan tingkat kecerdasan yang biasa saja, tidak cantik tapi berusaha tampil menarik bila dalam forum melalui diskusinya serta senang bertualang ke tempt-tempat baru. Si Biru adalah seorang gadis yang cantik, pintar, berpendirian keras, namun tidak terlalu pandai berdiplomasi.
Si Biru memang sangat pintar. Setiap harinya selalu dapat mengumpulkan ranting-ranting kering (persediaan untuk bahan bakar memasak) dalam jumlah yang lebih banyak dari si Hijau. Si Hijau selalu mendapat ranting yang lebih sedikit dari pada si Biru, karena setiap dia mengambil ranting dan bertemu dengan pohon baru selalu menyelidiki secara detil pohon tersebut, selain itu ia lebih senang berjalan ke wilayah baru yang jauh sehingga waktunya lebih banyak dihabiskan di jalan dan mengobrol dengan orang yang ditemuinya dibandingkan dengan mengumpulkan ranting. Yang terpenting bagi si Biru adalah banyaknya ranting yang dikumpulkan sedangkan bagi si Hijau ranting yang banyak juga sangat penting tapi tidak menargetkan dalam jumlah banyak (hanya sebatas persediaan hari ini dan besok) yang terpenting adalah pengalaman-pengalaman barunya yang tidak hanya sekedar tentang ranting.
Suatu ketika ada perlombaan memasak. Dalam perlombaan ini ditetapkan ketentuan bahwa yang menjadi pemenang adalah yang dapat memasak untuk porsi 1000 orang. Si Biru tersenyum lega karena persediaan kayu bakarnya lebih banyak dibandingkan dengan persediaan si Hijau. Si Biru optimis bahwa dialah yang akan memenangkan perlombaan ini.
"Ah...aku yakin aku yang akan menang, waktu perlombaan ini hanya dua hari. Mana sempat si Hijau mengumpulkan kayu bakar dalam jumlah yang banyak sementara ia pun harus memasak. Sedangkan aku tinggal memanfaatkan satu hari ini untuk mencari kayu bakar tambahan dan besoknya aku gunakan untuk memasak," pikir si Biru.
Hari itu si Hijau langsung pergi berkelana ke tempat-tempat kenalannya. Ia meminta bantuan kepada teman-teman yang pernah kenal untuk mencarikan kayu bakar. Semua kenalannya bersemangat membantu. Malam harinya kayu-kayu berdatangan dan melimpah ruah dibandingkan punyanya si Biru.
Sementara si Biru hanya bisa menambah sedikit kayunya karena ditempat biasa ia mencari kayu sudah tidak ada lagi kayu. Saat melihat persediaan si Biru melimpah, ia pun berambisi untuk mendapatkan lebih. Malam itu, ia pun berangkat menjelajah hutan untuk mencari kayu, termasuk ke tempat yang belum ia tempuh. Alhasil ia nyasar, karena ia tak tahu medan dan dalam keadaan gelap. Suaat subuh tiba ia baru tiba di rumahnya tanpa membawa kayu sedikitpun.
Hari terakhir lomba, si Hijau memasak dengan riang. Sahabat-sahabtnya hadir memberikan semangat. Sorak-sorai sahabat-sahabatnya membuat ia tak mau melewatkan detik-demi detik dengan kemalasan.
Sementara si Biru memasak tanpa diberikan semangat oleh orang-orang terdekatnya. tubuh yang semakin lelah pun kian terasa berat. Ia hanya berhasil memasak untuk 950 porsi karena pada saat memasak untuk 50 porsi lagi, kayu bakarnya habis.
Nasib si Hijau berbeda. ia berhasil memasak untuk 1000 porsi. Bahkan kayu bakarnya masih tersisa. Si Hijau pun menjadi pemenang.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar