Kamis, 14 Oktober 2010

PEMILUKADA TERULANG, JALAN MASIH BERLUBANG DAN BERKUBANG LUMPUR

Dua puluh tiga tahun yang lalu aku dilahirkan di sebuah peloksok desa di wilayah Pandeglang. Desa Pasirgadung Kecamatan Patia Kabupaten Pandeglang menjadi tanah kelahiranku. Bahkan tidak hanya itu, aku melewati masa kanak-kanak, remaja dan beranjak dewasa di sana. 

Sungguh...dalam hatiku yang terdalam ada rasa cinta yang besar untuk kampung halamanku itu. Meski kini di usia 23 tahun aku harus merelakan diri untuk tidak lagi menjadi penghuninya (bahkan tak tagi tercatat sebagai warganya), rindu dan cintaku masih terbingkai indah untuk kampungku. Bahkan kota Metropolitan Jakarta belum bisa mengikis cintaku pada desa di selatan Pandeglang tersebut. 

Namun sungguh rasa miris menghampiri hatiku. Luka yang berasal dari kecewa ini masih membekas. Aku merasakan prihatin yang menggila pada kampungku. Bayangkan...sampai detik ini keadaan jalan di desaku itu masih dalam keadaan sangat rusak. Bahkan saat musim penghujan tiba kendaraan berupa mobil tak bisa mengakses kampung halamanku. Motor pun harus mengeluarkan tenaga ekstra untuk bisa difungsikan.
 
Berulang kali berharap agar jalan mengalami perbaikan. Setiap tahun dihibur bahwa tahun mendatang akan ada pengaspalan. Setiap Pemilu dijanjikan akan ada bantuan dana untuk jalan. Setiap saat penduduk kampung desaku diliputi impian untuk memiliki akses jalan yang lebih baik.
 
Tapi begitulah, mimpi rakyat kecil hanya sebatas mimpi. Realisasi seakan tak dikenal dan tak mau menyapa. Harapan perbaikan jalan pupus seiring dengan enggannya pemimpin untuk mampir dan membuka mata atas keadaan jalan. Bahkan kata-kata pengobat hati yang mengabarkan bahwa tahun depan akan ada pengaspalan selalu diucapkan pada setiap tahun tanpa pelaksanaan. Janji-janji pemilu menguap dengan terlenanya si penjanji di atas empuknya kursi jabatan. 

Kemarin,Minggu (3/10) untuk kesekian kalinya PEMILU dilaksanakan. Kali ini PEMILUKADA yang bertujuan untuk memilih Pemimpin Pandeglang pun digelar. Warga Pandeglang pun rela meluangkan waktu untuk memilih Pemimpin yang baru, termasuk warga di kampungku. 

Aku yakin mereka rela meluangkan waktu demi harapan baru. Perbaikan Pandeglang menjadi tujuan. Bahkan bagi warga di kampungku jelas-jelas harapan itu terlontar, "Gampang lah yang muluk-muluk mah, yang penting jalan enak".
Jika warga kampungku saja rela meluangkan waktu agar punya pemimpin baru yang katanya mau memperbaiki Pandeglang, apakah pemimpin Pandeglang yang baru nanti mau meluangkan waktu untuk memikirkan jalan di kampungku lalu menyediakan anggaran untuk memperbaikinya???
Jika tidak, harus diulang berapa kali PEMILUKADA-nya agar JALAN TIDAK BERLUBANG dan BERKUBANG LUMPUR???  



 

Tidak ada komentar: